VMenu
-
2013
(15)
- November (5)
- Oktober (1)
- Juli (2)
-
Juni
(7)
- Ritual notokng dalam adat masyarakat dayak mali taba
- Negara islam pada periode modern yang meliputi tur...
- SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM
- hal-hal yang dapat merusak akidah
- TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDO...
- BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cik...
- la-mahkamad dan al-ahwal
Block
Enter Block content here...
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.
Text Widget
Categories
Recent Posts
Label
Labels
Definition List
Download
Blogger templates
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
-
Nama : Wahyu Ischak putra Kelas/semester : A/satu Jurusan/prodi : syariah ekonomi islam Potensi kelapa sawit di kalimantan barat Pulau K...
-
Lorem superscript dolor subscript amet, consectetuer adipiscing elit, test link . Nullam dignissim convallis ...
-
B AB I Pendahuluan A. Latar belakang Pada dasarnya dalam konsep-konsep maqamat dan ahwal memperkenalkan bagian dari pemahaman tasa...
-
Nama : wahyu ischak putra Kelas : A Semester : 1 Prodi : ekonomi islam Tawakal Secara harfiah tawakal berasal dari bahasa arab yang be...
-
SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM A. PERKEMBANGAN SISTEM KEUANGAN Finansial system atau system keuangan adalah suatu kaidah a...
-
TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDONESIA DI SUSUN OLEH: WAHYU I...
-
BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cikal bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat dipungkiri suda...
-
Negara islam pada periode modern yang meliputi turki, mesir, asia barat, iran, anak benua india, eropa dan amerika. Di susun oleh :...
Arsip Blog
-
▼
2013
(15)
-
▼
Juni
(7)
- Ritual notokng dalam adat masyarakat dayak mali taba
- Negara islam pada periode modern yang meliputi tur...
- SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM
- hal-hal yang dapat merusak akidah
- TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDO...
- BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cik...
- la-mahkamad dan al-ahwal
-
▼
Juni
(7)
Followers
Blog Archive
-
▼
2013
(15)
-
▼
Juni
(7)
- Ritual notokng dalam adat masyarakat dayak mali taba
- Negara islam pada periode modern yang meliputi tur...
- SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM
- hal-hal yang dapat merusak akidah
- TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDO...
- BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cik...
- la-mahkamad dan al-ahwal
-
▼
Juni
(7)
Minggu, 23 Juni 2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR
BELAKANG MASALAH
Cikal bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat
dipungkiri sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat
dilihat dalam perilaku dan peristiwa yang terjadi dalam hidup, dalam ibadah dan
dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Cikal bakal itu semuanya berdasarkan Al-Qur’an
dan Al-Hadits. Cikal bakal inilah yang diteruskan pengamalannya oleh Ahlul
Bait, Khulafaur-Rasyidin, para sahabat yang lain, para Ahlus Shufah , para
Salafus Shaleh, zaman tabi’in, tabi’it tabi’in sampai dengan zaman muta-akhirin
sekarang ini.
Para Sufi dan Syekh-syekh Mursyid dalam tarekat, merumuskan bagaimana
sistematika, jalan, cara, dan tingkat –tingkat jalan yang harus dilalui oleh
para calon sufi atau muri tarekat secara rohani untuk cepat bertaqarrub,
mendekatkan diri kehadirat Allah SWT.
Kenyataan dalam sejarah juga
menunjukkan, bahwa peran serta aktif dari para sufi dan para tuan syekh,
mursyid, adalah amat besar dalam dakwah islam dan dalam pembinaan umat, tidak
hanya dalam bidang ibadah ubudiyah, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan
perorangan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
B.RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
pengertian Tarekat ?
2.
Bagaimana
sejarah perkembangan Tarekat?
3.
Bagaimana
penyebaran Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah di Nusantara?
4.
Bagaimana
silsilah Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah?
5.
Bagaimana
ajaran tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah?
C.TUJUAN
PEMBAHASAN
1.
Mengetahui
pengertian Tarekat.
2.
Mengetahui
sejarah perkembangan Tarekat.
3.
Mengetahui
penyebaran Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah di Nusantara.
4.
Mengetahui
silsilah Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah.
5.
Mengetahui
ajaran tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tarekat
Kata Tarekat di ambil dari bahasa arab, yaitu dari
kata benda thoriqoh yang secara etimologis berarti jalan, metode atau tata
cara. Jamil Shaliba mengatakan secara harfiah, tarekat berarti jalan yang
terang dan lurus yang memungkinkan seseorang sampai pada tujuannya dengan
selamat.[1]
Adapun tarekat dalam terminologis (pengertian) ulama sufi yang dalam hal ini
akan saya ambil definisi tarekat menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili
al-Syafi al-Naqsyabandi, dalam kitab Tanwir al-Qulub-nya”Tarekat
ialah beramal syariat, mengambil/yang azimah (berat) dari pada yang rukhsoh (ringan)
serta menjauhkan diri dari mengambil pendapat yang mudah pada amal ibadah yang
tidak sebaiknya dipermudah, menjauhkan diri dari semua larangan syariat lahir
dan batin serta melaksanakan semua perintah Allah SWT semampunya,meninggalkan
semua larangan-Nya baik yang haram, makruh atau mubah yang sia-sia melaksanakan
semua ibadah fardlu dan sunah yang semuamnya ini di bawah arahan, naungan dan
bimbingan seorang guru/syekh/mursyid yang arif yang telah mencapai maqamnya
(layak menjadi seorang Syekh/Mursyid).
Dari definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa
tarekat adalah beramal dengan syariat Islam secara azimah (memilih yang berat
walau ada yang ringan, seperti rokok ada yang berpendapat haram dan makruh,
maka lebih memilih yang haram dengan mengerjakan semua perintah baik yang wajib
atau sunah, meninggalkan larangan baik yang haram atau makruh bahkan menjauhi
hal-hal yang mubah (boleh secara syariat) yang sia-sia (tidak bernilai manfaat,
minimal manfaat duniawiah) yang semuanya ini dengan bimbingan dari seorang
mursyid/guru guna menunjukan jalan yang aman dan selamat untuk menuju Allah (ma’rifatullah). .
B.Sejarah Perkembangan Tarekat
B.Sejarah Perkembangan Tarekat
Pada masa permulaan islam, hanya terdapat dua macam tarekat, yaitu
:
1.
Thariqat
Nabawiyah, yaitu amalan yang berlaku di masa Rasulullah saw, yang dilaksanakan
secara murni. Dinamakan juga dengan “Thariqat Muhammadiah” atau Syari’at.
2.
Thariqat
Salafiyah, yaitu cara beramal dan beribadah pada masa sahabat dan tabi’in,
dengan maksud memelihara dan membina syariat Rasulullah saw, dan dinamakan juga
dengan “Thariqat Salafus Saleh”.
Sesudah abad ke-2 H,
tarekat Salafiah mulai berkembang secara kurang murni. Ketidakmurniannya itu
antara lain yaitu disebabkan pengaruh filsafat dan alam pikiran manusia telah
memasuki negara Arab, seperti filsafat Yunani, India dan Tiongkok, sehingga
pengamalan thariqat Nabawiyah dan Salafiah telah bercampur aduk dengan
filsafat.
Sesudah abad ke-2 H itu
muncullah tarekat Sufiah yang diamalkan orang-orang Sufi, dengan tujuan untuk
kesucian, melalui empat tingkat:
1.
Syari’at,
mengetahui dan mengamalkan ketentuan-ketentuan syariat, sepanjang yang
menyangkut dengan lahiriah.
2.
Thariqat,
mengerjakan amalan hati, dengan akidah yang teguh sepanjang yang menyangkut
dengan batiniah.
3.
Hakikat,
cahaya musyahadah yang bersinar cemerlang dalam hati dan dengan cahaya itu
dapat mengetahui hakikat Allah dan rahasia alam semesta.
4.
Ma’rifah,
tingkat tertinggi, dimana orang telah mencapai kesucian hidup dalam alam
rohani, memiliki pandangan tembus(kasyaf) dan mengetahui hakikat dan
rahasia kebesaran Allah.[2]
Pada dasarnya tarekat berupa ibadah dizikir yang berasal dari
praktik Nabi Muhammad SAW yang kemudian diamalkan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin,
Tabi’in, Tabi’i At-Tabi’in dan seterusnya sampai kepada para syaikh atau
mursyid secara sambung-menyambung sampai sekarang.
Dalam perjalanan sejarahnya, tarekat mengalami perkembangan dari
masa ke masa. Menurut J. Spencer Trimingham sejarah perkembangan tarekat secara
garis besar melalui tiga tahap yaitu: tahap khanqah, tahap thariqah, dan tahap
tha’ifah.
Pertama, tahap khanqah terjadi sekitar abad X M. Dapat digambarkan
bahwa pada tahap ini tarekat berarti jalan atau metode yang ditempuh seorang
sufi untuk sampai kepada Allah secara individual (fardiyyah). Kontemplasi dan
latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual.
Kedua tahap thariqah, tahap ini terjadi sekitar abad VIII M dan
pada masa ini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf,
muncul pula pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya
masing-masing. Berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai
kedekatan diri kepada Tuhan dan di sini pula tasawuf telah mengambil bentuk
kelas menengah.
Ketiga, tahap tha’ifah, tahap ini terjadinya pada sekitar abad XV
M, dan pada masa ini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan dari guru
tarekat yangdisebut syaikh atau mursyid kepada para pengikut atau
murid-muridnya. Pada masa ini muncul organisasi tasawuf yang mempunyai cabang
di tempat lain. Pada tahap tha’ifah inilah tarekat dikenal sebagai organisasi
Sufi yang melestarikan ajaran syaikh-syaikh tertentu, maka muncullah nama-nama
tarekat seperti tarekat Qadiriyah, tarekat Naqsyabaniyah dan tarekat
Syadziliyah.
Dalam tradisi tarekat, sebagai organisasi tasawuf, murid biasanya
berkumpul di suatu tempat yang di sebut ribat, zawiyah, atau khanaqah untuk
melakukan latihan-latihan rohani(dzikrullah) yang materi pokoknya adalah
membaca istighfar, membaca shalawat nabi dan membaca dizikir nafi itsbat
dan ism dzat secara bersama di bawah bimbingan mursyid, yang di dalamnya
terdapat ajaran-ajaran (amaliyah), aturan-aturan(adab),kepemimpinan
(mursyid), hubungan antara mursyid dengan murid tarekat, wasilah, rabithah,
silsilah, ijazah, suluk, dan ritual-ritual seperti bai’at
atau talqin, khususiyah, haul, dan manaqib.
Di antara ulama sufi yang memberikan bimbingan kepada masyarakat
umum untuk mengamalkan tasawuf secara praktis(tasawuf ‘amali) adalah Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (w.
505 H/1111 M), kemudian menurut At-taftazani diikuti oleh ulama Sufi berikutnya
seperti Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dan Syaikh Ahmad ibn Ali Ar-Rifa’i. Kedua
tokoh Sufi tersebut kemudian dianggap sebagai pendiri Tarekat Qadiriyah dan
Tarekat Rifa’iyah yang tetap berkembang sampai sekarang, kemudian Syaikh Abu
Hasan As-Syadzili dengan tarekat Syadziliyah yang dinisbatkan kepada nama
belakangnya dan lain-lain. Sebenarnya munculnya banyak tarekat dalam islam pada
garis besarnya sama dengan latar belakang munculnya banyak madzhab dalam fiqih
dan banyak firqah dalam ilmu kalam. Di dalam kalam berkembang madzhab-madzhab
yang disebut dengan firqah, seperti Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah,
Maturidiyah, dan lain-lain.[3]
Di sini istilah yang digunakan bukan madzhab, tetapi firqah, di
dalam fiqih juga berkembang banyak firqah yang disebut dengan madzhab, seperti
madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Hanbali, madzhab Syafi’i, madzhab
Dzhahiri, madzhab Syi’i, dan lain-lain. Di dalam tasawuf juga berkembang banyak
madzhab yang disebut dengan tariqah. Tarekat dalam tasawuf jumlahnya jauh lebih
banyak jika dibandingkan dengan perkembangan madzhab dan firqah dalam fiqih dan
kalam, Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tarekat juga memiliki kedudukan
atau posisi sebagaimana mazdhab dan firqah-firqah tersebut di dalam syariat
islam.
C.Pengaruh
Tarekat di Dunia Islam
Kemunculan
tarekat di dunia islam beriringan dengan tercabik-cabiknya unsur politik dan
unsur di dunia islam. Dalam bidang politik, dunia islam sedang mengalami krisis
yang hebat dibagian barat dunia islam, sedang berkobar perang salib selama
lebih kurang dua abad(490-656) H. Dan telah terjadi delapan kali peperangan
dahsyat. Sedangkan di bagian timur umat islam menghadapi keganasan tentara
mongol. Yang haus darah dan kekuasaan. Sementara itu, Baghdad sebagai pusat
politik dan peradaban islam sudah tidak berdaya memainkan perannya. Hal itu,
akibat dari rebutan kekuasaan dan disintegrasi dalam struktur kekuasaan Daulat
Abbasiyah dan akhirnya dengan satu pukulan dahsyat Mongol menghancurkan Baghdad yang berarti
runtuhnya pula pusat peradaban islam.
Kerunyaman politik dan krisis
kekuasaan ini membawa dampak negatif bagi kehidupan umat islam di wilayah
tersebut. pada masa itu umat islam mengalami masa disintegrasi yang parah,
pertentangan atar golongan terjadi dimana-mana, keamanan terganggu dan
kehancuran umat islam terjadi.
Dalam situasi semacam ini wajarlah
kalau umat islam berusaha mempertahankan agamanya dengan berpegang pada
doktrinnya yang menenteramkan jiwa dan menjalin hubungan damai dengan sesama
muslim. Pada saat genting seperti ini muncullah para ulam sufi yang menampakkan
kepeduliannya dengan memberikan pengayoman kepada masyarakat islam yang sedang
mengalami krisis moral dan akhlak terpuji yang sangat hebat. Dengan dibukanya
ajaran-ajaran tasawuf kepada orang awam secara praktis lebih berfungsi sebagai
psikoterapi yang bersifat massal.
Dengan demikian perkembangan tarekat
yang ditandai dengan dibukanya majelis-majelis yang menerima anggota dari
masyarakat awam merupakan reaksi dari tokoh-tokoh ulama sufi untuk
menyelamatkan umat islam dari kehancuran yang semakin parah akibat pemberian
terapi spiritual yang nantinya diharapkan sanggup membangkitkan diri umat islam
untuk melangkah keluar dari krisis berkepanjangan.[4]
Ketika sendi-sendi tarekat ini telah
mengakar dalam jiwa masyarakat islam, banyak di antaran aliran-aliran tarekat
ini tidak hanya membimbing pengikutnya menelusuri dunia spiritual, tetapi juga
memimpin pengikutnya untuk merambah ke bidang lain termasuk bidang politik.
D.Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Tarekat Qadiriyyah merupakan sebuah tarekat yang dinisbahkan kepada
Shaykh Muhyi al-Din Abu Muhammad `Abd al-Qadir ibn Abi Salih Zangi Dost
al-Jilani yang dilahirkan di Jilan pada tahun 470 H. (1077 M.) dan meningal
dunia di Baghdad pada tahun 561 H. (1166 M.). Qadiriyah adalah nama tarekat yang diambil dari nama pendirinya,
dan ia terkenal dengan sebutan Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani al-ghawsts atau
quthb al-awliya’. Tarekat ini menempati posisi yang amat penting dalam sejarah
spiritualitas islam karena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi
tarekat, tetapi juga cikal bakal
munculnya berbagai cabang tarekat di dunia islam.
Pada dasarnya ajaran Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani tidak ada
perbedaan yang mendasar dengan ajaran pokok islam, terutama golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sebab Syaikh Abd
al-Qadir adalah sangat menghargai para pendiri mazhab fiqih yang empat dan
teologi Asy’ariyah. Dia sangat menekankan pada tauhid dan akhlak yang terpuji.
Adapun ajaran spiritual Syaikh ‘Abd al-Qadir berakar pada konsep tentang
dan pengalamannya akan tauhid dan Tuhan. Baginya, Tuhan senantiasa hadir.
Kesadaran akan kehadiran Tuhan di
segenap ufuk kehidupannya merupakan tuntunan dan motif untuk kebangunan hidup
sekaligus memberikan nilai transeden pada kehidupan. Nasihat Rasulullah pada
hadis, “ Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika engkau tak
dapat melihat-Nya, ketahuilah bahwa ia melihatmu,” merupakan semboyan
hidupnya, ini menggambarkan keluasan kesadarannya akan kehadiran Tuhan yang
serba meliput. Ia meyakini bahwa kesadarannya ini membersihkan dan memurnikan
hati seorang hamba, serta mendekatkan hati dengan sang Maha Kuasa.
Ajaran Syaikh ‘Abd al-Qadir selalu menenkan pada pensucian diri
dari hawa nafsu dunia. Karena itu dia memberikan beberapa petunjuk untuk
mencapai kesucian diri yang tertinggi. Adapun beberapa ajaran tersebut adalah
,taubat , zuhud , tawakal, syuku, ridha, dan jujur.[5]
Tarekat
Naqshabandiyyah pula merupakan sebuah tarekat yang dinisbahkan kepada Shaykh
Bahā’ al-Dīn, Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Sharīf al-Husayni al-Hasanī
al-Uwaysī al- Bukhārī yang dilahirkan di Bukhara, Turkestan, Asia Tengah pada
tahun 717 H. (1317 M.) dan meninggal dunia pada tahun 791 H. (1388 M.) di Qasr
`Ārifān, sebuah kampung di daerah tersebut.[6]
Manakala
Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah pula merupakan satu aliran tarekat yang
tergabung di dalamnya beberapa aliran tarekat sufiyyah khususnya tarekat
Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah yang menjadi unsur utama dalam pembentukan
tarekat ini. Penggabungan tarekat ini dipercayai telah dilakukan oleh Shaykh
Ahmad Khatib al-Sambasi (w. 1878 M) yang merupakan sufi dan shaykh ternama di
Masjid al-Haram, Mekah al-Mukarramah, yang berasal daripada Indonesia dan
menetap sampai akhir hayat beliau di Mekah.[7] Menurut keterangan Shaykh Ahmad
Khatib sendiri, tarekat yang diamalkan dan dikembangkan oleh beliau itu adalah
merupakan gabungan lima tarekat iaitu Qadiriyyah, Naqshabandiyyah, Anfasiyyah,
Junaydiyyah dan Muwafaqah. Walau bagaimanapun unsur Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah
merupakan unsur yang dominan dalam penggabungan tersebut dan ini kelihatan pada
silsilah, zikir, khatam dan tawassul yang dilaksanakan dalam tarekat ini.
Dari
sudut nisbah kerohanian, Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah merupakan
gabungan dua nisbah iaitu nisbah `Alawiyyah (nisbah kepada kerohanian Sayyiduna
`Ali ibn Abi Talib k.w.j.) yang kemudiannya membentuk aliran sufiyyah
dipelopori Shaykh Junayd al-Baghdadi, dan nisbah Siddiqiyyah (nisbah kepada
kerohanian Sayyiduna Abu Bakr al-Siddiq r.a.) yang kemudiannya membentuk aliran
malamatiyyah dipelopori oleh Shaykh Abu Yazid al-Bistami r.a. Ia adalah
gabungan aliran suluk (mujahadah dan riyadah) yang menjadi asas perjalanan
tarekat Qadiriyyah dan aliran jadhbah yang menjadi asas perjalanan tarekat
Naqshabandiyyah. Hakikat ini terserlah antara lain pada bentuk zikir jahr
Qadiriyyah yang memperlihatkan unsur keterbukaan dan kekuatan semangat serta
hemah yang tinggi, dan bentuk zikir khafi Naqshabandiyyah yang memperlihatkan
unsur sembunyi (tertutup), merasai kefaqiran dan kelemahan diri dan juga
harapan yang tinggi.
E.Perkembangan Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Di Nusantara
Tarekat
Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah pada asalnya berpusat di Mekah al-Mukarramah di
era kepimpinan Shaykh Ahmad Khatib. Ia kemudiannya didapati telah berkembangan
dengan pesat di Asia Tenggara terutamanya di Kepulauan Jawa menerusi para
khalifah Shaykh Ahmad Khatib. Antara khalifah Shaykh Ahmad Khatib yang ternama
ialah Shaykh Abdul Karim al-Bantani yang menggantikan beliau sebagai murshid di
Mekah, Shaykh Ahmad Talhah Kalisapu Ceribon yang menyebarkan tarekat ini di
Jawa Barat, Shaykh Ahmad Hasbu yang menyebarkan tarekat ini di Madura dan
lain-lain. Selain itu Shaykh Ahmad Khatib mempunyai beberapa orang khalifah
lagi yang agak kurang berpengaruh berbanding tiga khalifah tersebut, antara
mereka ialah Shaykh Muhammad Isma`il bin Abd. Rahim dari Bali, Shaykh Yasin
dari Kedah, Shaykh Haji Ahmad Lampung dari Lampung dan Shaykh M. Ma`ruf bin
Abdullah al-Khatib dari Palembang Shaykh Nuruddin dari Filipina dan Shaykh
Muhammad Sa`ad dari Sambas.
Tarekat
pimpinan Abah Anom ini berpusat di Pondok Pesantren Suryalaya, Jawa Barat,
Indonesia, yang merupakan antara yang terbesar di Jawa. Tarekat Qadiriyyah wa
Naqshabandiyyah pimpinan Abah Anom ini telah dibawa masuk dan dikembangkan oleh
para wakil (khalifah) beliau di negara ini. Antara mereka ialah Ustaz Hj. Ali
(1975) dari Singapura yang selalu berulang-alik ke Kedah, Kuala Lumpur dan
beberapa negeri lain, Hj. Muhammad Said al-Attas (1977) yang menyebarkan
tarekat ini di Negeri Sembilan, Kuala Lumpur, Sabah dan beberapa negeri lain
termasuklah Thailand, Ustaz Hj. Muhammad Trang Isa (1978) yang menyebarkan tarekat ini di Sarawak, Ustaz
Hj. Muhammad Uthman bin Abdul Latif (1984) yang menyebarkan tarekat ini di
Terengganu, Ustaz Hj. Muhd Zuki (1986) yang menyebarkan tarekat ini di Kedah,
Ustaz Hj. Mansur (1996) dan Tun Hj. Sakaran Dandai (2005) yang menyebarkan
tarekat ini di Sabah dan Ustaz Saifuddin (2005) yang menyebarkan tarekat ini di
Negeri Sembilan dan Kuala Lumpur.
Hasil dari penyebaran yang dilakukan oleh para wakil Abah Anom ini, jumlah
pengamal Tarekat
Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah menjadi semakin bertambah dari semasa ke semasa dan pusat pengamalannya
juga bertambah di seluruh tanah air. Antara pusat pengamalan Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di Malaysia sekarang ini ialah di Batu Caves
(Kuala Lumpur), Lembah Kelang dan Bangi (Selangor), Nilai (Negeri Sembilan),
Masjid Tanah (Melaka), Putrajaya, Kuala Nerang (Kedah), Kuala Terengganu,
Dungun dan Kemaman (Terengganu), Kota Kinabalu, Tawau dan Sempoerna (Sabah),
dan Kuching (Sarawak).
Selain itu antara kumpulan pengamal tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
yang masyhur di Malaysia ialah kumpulan yang terdapat di Johor iaitu yang
mengambil silsilah daripada Shaykh Hasan Mustafa dan juga Shaykh Abu Naim
(Sarang Buaya Semerah) yang kedua-duanya mengambil tarekat daripada Shaykh `Abd
al-Karim Banten iaitu khalifah dan pengganti Shaykh Ahmad Khatib di Mekah dan
Shaykh Sam`un ibn `Abd al-Karim. Begitu juga kumpulan yang mengambil silsilah
daripada Shaykh Haji Siraj (Rengit, Batu Pahat) yang mengambil tarekat dari
shaykh di Indonesia.Sehingga kini terdapat puluhan tempat perhimpunan dan
pengamalan tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di negeri Johor dan
sekitarnya.
F.Silsilah Perguruan Tarekat Qadiriyyah wa
Naqshabandiyyah
Dari segi silsilah tarekat, Shaykh Ahmad Khatib mengambil tarekat
Qadiriyyah daripada Shaykh Shams al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh
Muhammad Murad yang mengambilnya daripada Shaykh `Abd al-Fattah yang
mengambilnya daripada Shaykh `Uthman yang mengambilnya daripada Shaykh `Abd
al-Rahim yang mengambilnya daripada Shaykh Abu Bakr yang mengambilnya daripada
Shaykh Yahya yang mengambilnya daripada Shaykh Hisham al-Din yang mengambilnya
daripada Shaykh Walyy al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh Nur al-Din yang
mengambilnya daripada Shaykh Sharf al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh
Shams al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh Muhammad al-Hattak yang
mengambilnya daripada Shaykh `Abd al-`Aziz yang mengambilnya daripada Shaykh
`Abd al-Qadir al-Jilani.
Shaykh `Abd al-Qadir al-Jilani mengambil tarekat daripada Shaykh Abu Sa`id
al-Mubarak ibn `Ali al-Makhzumi yang mengambilnya daripada Shaykh Abu al-Hasan
`Ali ibn Yusuf al-Qirshi al-Hakari yang mengambilnya daripada Shaykh Abu
al-Fadl `Abd al-Wahid al-Tamimi yang mengambilnya daripada Shaykh Abu Bakr Dilf
al-Shibli yang mengambilnya daripada Shaykh Abu al-Qasim al-Junayd al-Baghdadi
yang mengambilnya daripada Shaykh Sirr al-Saqati yang mengambilnya daripada
Shaykh Ma`ruf al-Karkhi yang mengambilnya daripada Shaykh Abu al-Hasan
`Ali ibn Musa al-Rida yang mengambilnya daripada Sayyiduna al-Imam Musa
al-Kazim yang mengambilnya daripada Sayyiduna Ja`far al-Sadiq yang mengambilnya
daripada Sayyiduna Muhammad al-Baqir yang mengambilnya daripada Sayyiduna Zayn al-`Abidin
yang mengambilnya daripada Sayyiduna Husayn yang mengambilnya daripada
Sayyiduna `Ali yang mengambilnya daripada Sayyiduna Muhammad s.a.w.[8]
Manakala silsilah tarekat Naqshabandiyyah pula, Shaykh Ahmad Khatib
Sambas didapati tidak menyebutnya dalam karya beliau Fath al-`Arifin. Para
pengkaji sejarah tarekat seperti Martin Van Bruinessen pula, tidak menemui
maklumat yang dapat memberikan penjelasan mengenai perkara ini. Walau
bagaimanapun beberapa perguruan tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di Jawa
didapati memberikan maklumat mengenai perkara ini.
Shaykh Baha’ al-Din Shah Naqshaband mengambil tarekat daripada Shaykh
Sayyid Amir Kulal yang mengambilnya daripada Shaykh Muhammad Baba al-Samasi
yang mengambilnya daripada Shaykh `Ali al-Ramitani yang mengambilnya daripada
Shaykh Mahmud al-Injir al-Faghnawi yang mengambilnya daripada Shaykh `Arif
al-Riwakri yang mengambilnya daripada Shaykh `Abd al-Khaliq al-Ghujdawani yang
mengambilnya daripada Shaykh Yusuf al-Hamadani yang mengambilnya daripada
Shaykh Abu `Ali al-Farmadi yang mengambilnya daripada Shaykh Abu al-Hasan
al-Kharqani yang mengambilnya daripada Shaykh Abu Yazid al-Bistami yang mengambilnya
daripada Imam Ja`far al-Sadiq yang mengambilnya daripada al-Qasim ibn Muhammad
yang mengambilnya daripada Salman al-Farisi yang mengambilnya daripada Abu Bakr
al-Siddiq yang mengambilnya daripada Nabi Muhammad s.a.w.
Berdasarkan silsilah ini, tarekat Naqshabandiyyah yang diambil oleh Shaykh
Ahmad Khatib adalah dari cabang Mujaddidiyyah (nisbah kepada Shaykh Ahmad
al-Faruqi al-Sirhindi) Mazhariyyah (nisbah kepada Shaykh Shams al-Din Habib
Allah Jan Janan Mazhar al-`Alawi). Silsilah ini tidak melalui Shaykh Khalid
al-Kurdi tetapi melalui Shaykh Abu Sa`id al-Ahmadi yang merupakan rakan
seperguruan Shaykh Khalid di mana kedua-duanya merupakan murid dan juga
khalifah kepada Shaykh `Abd Allah al-Dahlawi. Maka kerana itu tarekat
Naqshabandiyyah Shaykh Ahmad Khatib bukanlah daripada cabang Khalidiyyah.
Amalan Khusus Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Terdapat beberapa amalan khusus yang dilaksanakan dalam tarekat Qadiriyyah
wa Naqshabandiyyah, antaranya ialah; Pertama, zikir yang merangkumi zikir
harian dan juga zikir khatam, sama ada dilaksanakan secara individu atau
berjamaah. Kedua, manaqib iaitu majlis perhimpunan bulanan bagi ikhwan tarekat
yang mana antara pengisiannya ialah pembacaan manaqib Shaykh `Abd al-Qadir
al-Jilani. Ketiga, riyadah iaitu latihan kerohanian khusus yang dilaksanakan
oleh ikhwan menurut apa yang diajarkan oleh shaykh.
Perlaksanaan Zikir Dalam Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Terdapat dua jenis zikir khusus dalam tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
iaitu zikir harian dan zikir khatam. Zikir harian ialah zikir jahr, zikir khafi
dan muraqabah yang dilaksanakan secara tetap (istiqamah) setiap hati selepas
solat fardu.
Zikir Jahr
Zikir jahr ialah zikir
kalimah tauhid (nafy ithbat) yang diucapkan dengan lidah dengan syarat, adab
dan kaifiyyat tertentu. Antara syarat zikir ini ialah talqin daripada murshid
atau wakilnya, berwuduk, suara yang bersemangat dan pukulan yang kuat ke hati
sanubari. Zikir ini bukan hanya diucapkan, malah ditanamkan dalam diri manusia
sehingga keyakinannya menjadi kuat dan perilaku serta amalannya menjadi baik.
Menerusi pendekatan tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, zikir kalimah tauhid
ini diamalkan setiap kali selepas selesai solat fardu sejumlah paling kurang
165 kali.
Zikir Khafi (Sirr)
Manakala zikir khafi
pula ialah zikir ism al-dhat yang ditanam dan diisikan di dalam hati dan
perasaan sehingga hati seseorang itu terasa dan sedar terhadap kewujudan dan
kebersertaan Allah di mana juga dia berada. Zikir ini diamalkan dengan
persyaratan, adab dan kaifiyyat tertentu. Zikir ism al-dhat secara khafi ini
diamalkan pada setiap kali selepas selesai solat fardu iaitu selepas zikir
jahr.
Muraqabah
Muraqabah merupakan
salah satu amalan yang dilaksanakan dalam tarekat Qadiriyyah wa
Naqshabandiyyah. Muraqabah dalam tarekat bermaksud renungan batin atau tilikan
rohani terhadap Allah s.w.t. dan makna-makna ketuhanan-Nya serta
pengertian-pengertian yang berkaitan dengannya dalam keadaan menanti limpahan
kerohanian yang dikurniakan ke dalam hati. Ia dilaksanakan setelah seseorang
murid itu mencapai kemantapan zikir dan mendapat talqin (pengajaran) serta
keizinan daripada shaykh. Shaykh Ahmad Khatib dalam karya beliau Fath
al-`Arifin telah menyebut dua puluh jenis muraqabah iaitu;
1-Muraqabah al-Ahadiyyah
2-Muraqabah al-Ma`iyyah
3-Muraqabah al-Aqrabiyyah
4-Muraqabah al-Mahabbah fi Da’irah al-Ula
5-Muraqabah al-Mahabbah fi
al-Dai’irah al-Thaniyah
6-Muraqabah al-Mahabbah fi
al-Qaws
7-Muraqabah Wilayah al-`Ulya
8-Muraqabah Kamalat al-Nubuwwah
9-Muraqabah Kamalat al-Risalah
10-Muraqabah Kamalat Ulu al-`Azmi
11-Muraqabah al-Mahabbah fi
Da’irah al-Khullah
12-Muraqabah Da’irah al-Mahabbah
al-Sarfah (Hakikat Sayyiduna Musa)
13-Muraqabah al-Dhatiyyah al-Mumtazijah
bi al-Mahabbah
14-Muraqabah al-Mahbubiyyah al-Sarfah
15-Muraqabah al-Hubb al-Sarf
16-Muraqabah La Ta`yin
17-Muraqabah Haqiqah al-Ka`bah
18-Muraqabah Haqiqah al-Qur’an
19-Muraqabah Haqiqah al-Salah
20-Muraqabah Da’irah
al-Ma`budiyyah al-Sarfah
Zikir
Khatam
Zikir
khatam merupakan sebahagian daripada amalan yang dilaksanakan dalam tarekat
Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah. Zikir khatam ini biasanya dilaksanakan secara
berjamaah dan merupakan zikir mingguan, namun ia boleh juga dilaksanakan secara
individu dan diamalkan secara harian. Zikir khatam tarekat Qadiriyyah wa
Naqshabandiyyah merupakan gabungan beberapa khatam yang dinisbahkan kepada
beberapa orang shaykh yang ternama dalam silsilah kedua-dua tarekat tersebut
iaitu tarekat Qadiriyyah dan tarekat Naqshabandiyyah.
Manaqib
Manaqib
merupakan acara bulanan bagi ikhwan tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah.
Dalam majlis manaqib ini, pembacaan manaqib Shaykh `Abdul al-Qadir al-Jilani
akan diperdengarkan kepada para ikhwan selain daripada pembacaan ayat-ayat suci
al-Qur’an, tawassul dan beberapa acara lain lagi.
Matlamat
Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Tarekat
Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, sebagaimana juga tarekat-tarekat lain adalah
bertujuan mencapai hakikat ihsan. Perkara ini dapat dilihat dengan jelas pada
munajat yang menjadi dasar bagi tarekat dan seluruh pengamalannya iaitu
“Allahumma (Ilahi) anta maqsudi wa ridaka matlubi a`tini mahabbataka wa
ma`rifataka” yang bermaksud “Tuhanku Engkaulah maksudku, keredaan Engkaulah
yang aku cari, maka kurniakanlah kepadaku rasa cinta kepad-Mu dan kenal
diri-Mu”. Munajat ini merangkumi tiga perkara utama iaitu taqarrub (mendekatkan
diri) kepada Allah, mencapai keredaan Allah dan mendapat mahabbah (rasa cinta) serta ma`rifah
(kenal) terhadap Allah. Ketiga-tiga perkara ini adalah elemen asas bagi
pencapaian hakikat ihsan.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
* Kata Tarekat di ambil dari bahasa arab,
yaitu dari kata benda thoriqoh yang secara etimologis berarti jalan, metode
atau tata cara. Jamil Shaliba mengatakan secara harfiah, tarekat berarti jalan
yang terang dan lurus yang memungkinkan seseorang sampai pada tujuannya dengan
selamat.
* Tarekat dalam terminologis
(pengertian) ulama sufi yang dalam hal ini akan saya ambil definisi tarekat
menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili al-Syafi al-Naqsyabandi, dalam
kitab Tanwir al-Qulub-nya”Tarekat ialah beramal syariat, mengambil/yang azimah
(berat) dari pada yang rukhsoh (ringan).
* Tarekat
Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah merupakan satu tarekat yang lahir daripada
gabungan beberapa tarekat khususnya dua tarekat besar dalam dunia Islam iaitu
Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah.
* Tarekat ini yang pada mulanya muncul di Mekah telah
berkembang dengan begitu pesat terutamanya di Nusantara khususnya di Kepulauan
Jawa. Tarekat ini sebagaimana juga tarekat-tarekat lain, memberikan tumpuan
kepada amalan zikir dan muraqabah dalam usaha mencapai hakikat ihsan.
Pencapaian ihsan dilihat dapat memperkuatkan keimanan dan memantapkan
perlaksanaan syariat.
* Terdapat beberapa amalan khusus yang
dilaksanakan dalam tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, antaranya ialah;
Pertama, zikir harian dan zikir khatam,
sama ada dilaksanakan secara individu atau berjamaah. Kedua, manaqib iaitu
majlis perhimpunan bulanan bagi ikhwan tarekat yang mana antara pengisiannya
ialah pembacaan manaqib Shaykh `Abd al-Qadir al-Jilani. Ketiga, riyadah iaitu
latihan kerohanian khusus.
* Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, sebagaimana
juga tarekat-tarekat lain adalah bertujuan mencapai hakikat ihsan.
DAFTAR PUSTAKA
M.Sholihin dan Rosyid Anwar, Akhlak Tasawuf, Bandung;Nuansa,
2005.
H.A.Fuad, Hakikat Tarekat Naqsyabandiah, Jakarta;Pustaka
Al-Husna,1994.
Kh.A .Aziz Masyhuri, Ensiklopedi
22 aliran tarekat dalam tasawuf, Surabaya;IMTIYAZ , 2011.
DR.H.Asep Usmar Isamail.MA, Tasawuf,Jakarta;Pusat Study
Wanita,2005.
Dr.Hj.Sri
Mulyati, MA ,Mengenal& Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia,Jakarta:
Kencana, 2006.
H.A.R.Gibb dan JH.Kramers,Shorter Encyclopedia of Islam (Ensiklopedi
Islam) 2005.
Hawas Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf , Bruinessen; Tarekat
Naqsyabandiyah ,2004.
[1]
M.Sholihin dan Rosyid Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung;Nuansa,2005) 243
[2]
H.A.Fuad, Hakikat Tarekat Naqsyabandiah, (Jakarta;Pustaka Al-Husna,1994), 9-10
[3] Kh.A .Aziz Masyhuri, Ensiklopedi
22 aliran tarekat dalam tasawuf, (surabaya;IMTIYAZ juli 2011) hal 6-7
[4]
DR.H.Asep Usmar Isamail.MA, Tasawuf,(Jakarta;Pusat Study Wanita:2005)
224
[5]
Dr.Hj.Sri Mulyati, MA ,Mengenal& Memahami Tarekat-tarekat
Muktabarah di Indonesia,( Jakarta: Kencana, 2006) 26
[6]
H.A.R.Gibb dan JH.Kramers,Shorter Encyclopedia of Islam (Ensiklopedi Islam) 177
[7] Hawas
Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf , (Bruinessen; Tarekat Naqsyabandiyah) 91
[8] Ahmad
Khatib, Fath al-Arifin (Suryalaya; Uqudul Jurmaan)26-31
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)
0 komentar:
Posting Komentar