Block

Enter Block content here...


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.

Text Widget

Categories

Recent Posts

Label

Labels

Definition List

Download

Blogger templates

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

Followers

Minggu, 23 Juni 2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG MASALAH
Cikal bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat dipungkiri sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa yang terjadi dalam hidup, dalam ibadah dan dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Cikal bakal itu semuanya berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Cikal bakal inilah yang diteruskan pengamalannya oleh Ahlul Bait, Khulafaur-Rasyidin, para sahabat yang lain, para Ahlus Shufah , para Salafus Shaleh, zaman tabi’in, tabi’it tabi’in sampai dengan zaman muta-akhirin sekarang ini.
Para Sufi dan Syekh-syekh Mursyid dalam tarekat, merumuskan bagaimana sistematika, jalan, cara, dan tingkat –tingkat jalan yang harus dilalui oleh para calon sufi atau muri tarekat secara rohani untuk cepat bertaqarrub, mendekatkan diri kehadirat Allah SWT.
Kenyataan dalam sejarah juga menunjukkan, bahwa peran serta aktif dari para sufi dan para tuan syekh, mursyid, adalah amat besar dalam dakwah islam dan dalam pembinaan umat, tidak hanya dalam bidang ibadah ubudiyah, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan perorangan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
B.RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Tarekat ?
2.      Bagaimana sejarah perkembangan Tarekat?
3.      Bagaimana penyebaran Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah di Nusantara?
4.      Bagaimana silsilah Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah?
5.      Bagaimana ajaran tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah?
C.TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Mengetahui pengertian Tarekat.
2.      Mengetahui sejarah perkembangan Tarekat.
3.      Mengetahui penyebaran Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah di Nusantara.
4.      Mengetahui silsilah Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah.
5.      Mengetahui ajaran tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tarekat
Kata Tarekat di ambil dari bahasa arab, yaitu dari kata benda thoriqoh yang secara etimologis berarti jalan, metode atau tata cara. Jamil Shaliba mengatakan secara harfiah, tarekat berarti jalan yang terang dan lurus yang memungkinkan seseorang sampai pada tujuannya dengan selamat.[1] Adapun tarekat dalam terminologis (pengertian) ulama sufi yang dalam hal ini akan saya ambil definisi tarekat menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili al-Syafi al-Naqsyabandi, dalam kitab Tanwir al-Qulub-nya”Tarekat ialah beramal syariat, mengambil/yang azimah (berat) dari pada yang rukhsoh (ringan) serta menjauhkan diri dari mengambil pendapat yang mudah pada amal ibadah yang tidak sebaiknya dipermudah, menjauhkan diri dari semua larangan syariat lahir dan batin serta melaksanakan semua perintah Allah SWT semampunya,meninggalkan semua larangan-Nya baik yang haram, makruh atau mubah yang sia-sia melaksanakan semua ibadah fardlu dan sunah yang semuamnya ini di bawah arahan, naungan dan bimbingan seorang guru/syekh/mursyid yang arif yang telah mencapai maqamnya (layak menjadi seorang Syekh/Mursyid).                    
Dari definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa tarekat adalah beramal dengan syariat Islam secara azimah (memilih yang berat walau ada yang ringan, seperti rokok ada yang berpendapat haram dan makruh, maka lebih memilih yang haram dengan mengerjakan semua perintah baik yang wajib atau sunah, meninggalkan larangan baik yang haram atau makruh bahkan menjauhi hal-hal yang mubah (boleh secara syariat) yang sia-sia (tidak bernilai manfaat, minimal manfaat duniawiah) yang semuanya ini dengan bimbingan dari seorang mursyid/guru guna menunjukan jalan yang aman dan selamat untuk menuju Allah (ma’rifatullah).                                      . 

B.Sejarah Perkembangan Tarekat
Pada masa permulaan islam, hanya terdapat dua macam tarekat, yaitu :
1.      Thariqat Nabawiyah, yaitu amalan yang berlaku di masa Rasulullah saw, yang dilaksanakan secara murni. Dinamakan juga dengan “Thariqat Muhammadiah” atau Syari’at.
2.      Thariqat Salafiyah, yaitu cara beramal dan beribadah pada masa sahabat dan tabi’in, dengan maksud memelihara dan membina syariat Rasulullah saw, dan dinamakan juga dengan “Thariqat Salafus Saleh”.
      Sesudah abad ke-2 H, tarekat Salafiah mulai berkembang secara kurang murni. Ketidakmurniannya itu antara lain yaitu disebabkan pengaruh filsafat dan alam pikiran manusia telah memasuki negara Arab, seperti filsafat Yunani, India dan Tiongkok, sehingga pengamalan thariqat Nabawiyah dan Salafiah telah bercampur aduk dengan filsafat.
      Sesudah abad ke-2 H itu muncullah tarekat Sufiah yang diamalkan orang-orang Sufi, dengan tujuan untuk kesucian, melalui empat tingkat:
1.      Syari’at, mengetahui dan mengamalkan ketentuan-ketentuan syariat, sepanjang yang menyangkut dengan lahiriah.
2.      Thariqat, mengerjakan amalan hati, dengan akidah yang teguh sepanjang yang menyangkut dengan batiniah.
3.      Hakikat, cahaya musyahadah yang bersinar cemerlang dalam hati dan dengan cahaya itu dapat mengetahui hakikat Allah dan rahasia alam semesta.
4.      Ma’rifah, tingkat tertinggi, dimana orang telah mencapai kesucian hidup dalam alam rohani, memiliki pandangan tembus(kasyaf) dan mengetahui hakikat dan rahasia kebesaran Allah.[2]
Pada dasarnya tarekat berupa ibadah dizikir yang berasal dari praktik Nabi Muhammad SAW yang kemudian diamalkan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, Tabi’in, Tabi’i At-Tabi’in dan seterusnya sampai kepada para syaikh atau mursyid secara sambung-menyambung sampai sekarang.
Dalam perjalanan sejarahnya, tarekat mengalami perkembangan dari masa ke masa. Menurut J. Spencer Trimingham sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap yaitu: tahap khanqah, tahap thariqah, dan tahap tha’ifah.
Pertama, tahap khanqah terjadi sekitar abad X M. Dapat digambarkan bahwa pada tahap ini tarekat berarti jalan atau metode yang ditempuh seorang sufi untuk sampai kepada Allah secara individual (fardiyyah). Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual.
Kedua tahap thariqah, tahap ini terjadi sekitar abad VIII M dan pada masa ini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf, muncul pula pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Tuhan dan di sini pula tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah.
Ketiga, tahap tha’ifah, tahap ini terjadinya pada sekitar abad XV M, dan pada masa ini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan dari guru tarekat yangdisebut syaikh atau mursyid kepada para pengikut atau murid-muridnya. Pada masa ini muncul organisasi tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain. Pada tahap tha’ifah inilah tarekat dikenal sebagai organisasi Sufi yang melestarikan ajaran syaikh-syaikh tertentu, maka muncullah nama-nama tarekat seperti tarekat Qadiriyah, tarekat Naqsyabaniyah dan tarekat Syadziliyah.
Dalam tradisi tarekat, sebagai organisasi tasawuf, murid biasanya berkumpul di suatu tempat yang di sebut ribat, zawiyah, atau khanaqah untuk melakukan latihan-latihan rohani(dzikrullah) yang materi pokoknya adalah membaca istighfar, membaca shalawat nabi dan membaca dizikir nafi itsbat dan ism dzat secara bersama di bawah bimbingan mursyid, yang di dalamnya terdapat ajaran-ajaran (amaliyah), aturan-aturan(adab),kepemimpinan (mursyid), hubungan antara mursyid dengan murid tarekat, wasilah, rabithah, silsilah, ijazah, suluk, dan ritual-ritual seperti bai’at atau talqin, khususiyah, haul, dan manaqib.
Di antara ulama sufi yang memberikan bimbingan kepada masyarakat umum untuk mengamalkan tasawuf secara praktis(tasawuf ‘amali)  adalah Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (w. 505 H/1111 M), kemudian menurut At-taftazani diikuti oleh ulama Sufi berikutnya seperti Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dan Syaikh Ahmad ibn Ali Ar-Rifa’i. Kedua tokoh Sufi tersebut kemudian dianggap sebagai pendiri Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Rifa’iyah yang tetap berkembang sampai sekarang, kemudian Syaikh Abu Hasan As-Syadzili dengan tarekat Syadziliyah yang dinisbatkan kepada nama belakangnya dan lain-lain. Sebenarnya munculnya banyak tarekat dalam islam pada garis besarnya sama dengan latar belakang munculnya banyak madzhab dalam fiqih dan banyak firqah dalam ilmu kalam. Di dalam kalam berkembang madzhab-madzhab yang disebut dengan firqah, seperti Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan lain-lain.[3]
Di sini istilah yang digunakan bukan madzhab, tetapi firqah, di dalam fiqih juga berkembang banyak firqah yang disebut dengan madzhab, seperti madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Hanbali, madzhab Syafi’i, madzhab Dzhahiri, madzhab Syi’i, dan lain-lain. Di dalam tasawuf juga berkembang banyak madzhab yang disebut dengan tariqah. Tarekat dalam tasawuf jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan perkembangan madzhab dan firqah dalam fiqih dan kalam, Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tarekat juga memiliki kedudukan atau posisi sebagaimana mazdhab dan firqah-firqah tersebut di dalam syariat islam.
C.Pengaruh Tarekat di Dunia Islam
            Kemunculan tarekat di dunia islam beriringan dengan tercabik-cabiknya unsur politik dan unsur di dunia islam. Dalam bidang politik, dunia islam sedang mengalami krisis yang hebat dibagian barat dunia islam, sedang berkobar perang salib selama lebih kurang dua abad(490-656) H. Dan telah terjadi delapan kali peperangan dahsyat. Sedangkan di bagian timur umat islam menghadapi keganasan tentara mongol. Yang haus darah dan kekuasaan. Sementara itu, Baghdad sebagai pusat politik dan peradaban islam sudah tidak berdaya memainkan perannya. Hal itu, akibat dari rebutan kekuasaan dan disintegrasi dalam struktur kekuasaan Daulat Abbasiyah dan akhirnya dengan satu pukulan dahsyat  Mongol menghancurkan Baghdad yang berarti runtuhnya pula pusat peradaban islam.
            Kerunyaman politik dan krisis kekuasaan ini membawa dampak negatif bagi kehidupan umat islam di wilayah tersebut. pada masa itu umat islam mengalami masa disintegrasi yang parah, pertentangan atar golongan terjadi dimana-mana, keamanan terganggu dan kehancuran umat islam terjadi.
            Dalam situasi semacam ini wajarlah kalau umat islam berusaha mempertahankan agamanya dengan berpegang pada doktrinnya yang menenteramkan jiwa dan menjalin hubungan damai dengan sesama muslim. Pada saat genting seperti ini muncullah para ulam sufi yang menampakkan kepeduliannya dengan memberikan pengayoman kepada masyarakat islam yang sedang mengalami krisis moral dan akhlak terpuji yang sangat hebat. Dengan dibukanya ajaran-ajaran tasawuf kepada orang awam secara praktis lebih berfungsi sebagai psikoterapi yang bersifat massal.
            Dengan demikian perkembangan tarekat yang ditandai dengan dibukanya majelis-majelis yang menerima anggota dari masyarakat awam merupakan reaksi dari tokoh-tokoh ulama sufi untuk menyelamatkan umat islam dari kehancuran yang semakin parah akibat pemberian terapi spiritual yang nantinya diharapkan sanggup membangkitkan diri umat islam untuk melangkah keluar dari krisis berkepanjangan.[4]
            Ketika sendi-sendi tarekat ini telah mengakar dalam jiwa masyarakat islam, banyak di antaran aliran-aliran tarekat ini tidak hanya membimbing pengikutnya menelusuri dunia spiritual, tetapi juga memimpin pengikutnya untuk merambah ke bidang lain termasuk bidang politik.
           
D.Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
 Tarekat Qadiriyyah merupakan sebuah tarekat yang dinisbahkan kepada Shaykh Muhyi al-Din Abu Muhammad `Abd al-Qadir ibn Abi Salih Zangi Dost al-Jilani yang dilahirkan di Jilan pada tahun 470 H. (1077 M.) dan meningal dunia di Baghdad pada tahun 561 H. (1166 M.). Qadiriyah adalah nama tarekat yang diambil dari nama pendirinya, dan ia terkenal dengan sebutan Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani al-ghawsts atau quthb al-awliya’. Tarekat ini menempati posisi yang amat penting dalam sejarah spiritualitas islam karena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat,  tetapi juga cikal bakal munculnya berbagai cabang tarekat di dunia islam.
Pada dasarnya ajaran Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani tidak ada perbedaan yang mendasar dengan ajaran pokok islam, terutama golongan  Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sebab Syaikh Abd al-Qadir adalah sangat menghargai para pendiri mazhab fiqih yang empat dan teologi Asy’ariyah. Dia sangat menekankan pada tauhid dan akhlak yang terpuji.
Adapun ajaran spiritual Syaikh ‘Abd al-Qadir berakar pada konsep tentang dan pengalamannya akan tauhid dan Tuhan. Baginya, Tuhan senantiasa hadir. Kesadaran akan kehadiran Tuhan  di segenap ufuk kehidupannya merupakan tuntunan dan motif untuk kebangunan hidup sekaligus memberikan nilai transeden pada kehidupan. Nasihat Rasulullah pada hadis, “ Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, ketahuilah bahwa ia melihatmu,” merupakan semboyan hidupnya, ini menggambarkan keluasan kesadarannya akan kehadiran Tuhan yang serba meliput. Ia meyakini bahwa kesadarannya ini membersihkan dan memurnikan hati seorang hamba, serta mendekatkan hati dengan sang Maha Kuasa.
Ajaran Syaikh ‘Abd al-Qadir selalu menenkan pada pensucian diri dari hawa nafsu dunia. Karena itu dia memberikan beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi. Adapun beberapa ajaran tersebut adalah ,taubat , zuhud , tawakal, syuku, ridha, dan jujur.[5]
Tarekat Naqshabandiyyah pula merupakan sebuah tarekat yang dinisbahkan kepada Shaykh Bahā’ al-Dīn, Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Sharīf al-Husayni al-Hasanī al-Uwaysī al- Bukhārī yang dilahirkan di Bukhara, Turkestan, Asia Tengah pada tahun 717 H. (1317 M.) dan meninggal dunia pada tahun 791 H. (1388 M.) di Qasr `Ārifān, sebuah kampung di daerah tersebut.[6]
Manakala Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah pula merupakan satu aliran tarekat yang tergabung di dalamnya beberapa aliran tarekat sufiyyah khususnya tarekat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah yang menjadi unsur utama dalam pembentukan tarekat ini. Penggabungan tarekat ini dipercayai telah dilakukan oleh Shaykh Ahmad Khatib al-Sambasi (w. 1878 M) yang merupakan sufi dan shaykh ternama di Masjid al-Haram, Mekah al-Mukarramah, yang berasal daripada Indonesia dan menetap sampai akhir hayat beliau di Mekah.[7] Menurut keterangan Shaykh Ahmad Khatib sendiri, tarekat yang diamalkan dan dikembangkan oleh beliau itu adalah merupakan gabungan lima tarekat iaitu Qadiriyyah, Naqshabandiyyah, Anfasiyyah, Junaydiyyah dan Muwafaqah. Walau bagaimanapun unsur Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah merupakan unsur yang dominan dalam penggabungan tersebut dan ini kelihatan pada silsilah, zikir, khatam dan tawassul yang dilaksanakan dalam tarekat ini.
Dari sudut nisbah kerohanian, Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah merupakan gabungan dua nisbah iaitu nisbah `Alawiyyah (nisbah kepada kerohanian Sayyiduna `Ali ibn Abi Talib k.w.j.) yang kemudiannya membentuk aliran sufiyyah dipelopori Shaykh Junayd al-Baghdadi, dan nisbah Siddiqiyyah (nisbah kepada kerohanian Sayyiduna Abu Bakr al-Siddiq r.a.) yang kemudiannya membentuk aliran malamatiyyah dipelopori oleh Shaykh Abu Yazid al-Bistami r.a. Ia adalah gabungan aliran suluk (mujahadah dan riyadah) yang menjadi asas perjalanan tarekat Qadiriyyah dan aliran jadhbah yang menjadi asas perjalanan tarekat Naqshabandiyyah. Hakikat ini terserlah antara lain pada bentuk zikir jahr Qadiriyyah yang memperlihatkan unsur keterbukaan dan kekuatan semangat serta hemah yang tinggi, dan bentuk zikir khafi Naqshabandiyyah yang memperlihatkan unsur sembunyi (tertutup), merasai kefaqiran dan kelemahan diri dan juga harapan yang tinggi.
E.Perkembangan Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah Di Nusantara
Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah pada asalnya berpusat di Mekah al-Mukarramah di era kepimpinan Shaykh Ahmad Khatib. Ia kemudiannya didapati telah berkembangan dengan pesat di Asia Tenggara terutamanya di Kepulauan Jawa menerusi para khalifah Shaykh Ahmad Khatib. Antara khalifah Shaykh Ahmad Khatib yang ternama ialah Shaykh Abdul Karim al-Bantani yang menggantikan beliau sebagai murshid di Mekah, Shaykh Ahmad Talhah Kalisapu Ceribon yang menyebarkan tarekat ini di Jawa Barat, Shaykh Ahmad Hasbu yang menyebarkan tarekat ini di Madura dan lain-lain. Selain itu Shaykh Ahmad Khatib mempunyai beberapa orang khalifah lagi yang agak kurang berpengaruh berbanding tiga khalifah tersebut, antara mereka ialah Shaykh Muhammad Isma`il bin Abd. Rahim dari Bali, Shaykh Yasin dari Kedah, Shaykh Haji Ahmad Lampung dari Lampung dan Shaykh M. Ma`ruf bin Abdullah al-Khatib dari Palembang Shaykh Nuruddin dari Filipina dan Shaykh Muhammad Sa`ad dari Sambas. 
Tarekat pimpinan Abah Anom ini berpusat di Pondok Pesantren Suryalaya, Jawa Barat, Indonesia, yang merupakan antara yang terbesar di Jawa. Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah pimpinan Abah Anom ini telah dibawa masuk dan dikembangkan oleh para wakil (khalifah) beliau di negara ini. Antara mereka ialah Ustaz Hj. Ali (1975) dari Singapura yang selalu berulang-alik ke Kedah, Kuala Lumpur dan beberapa negeri lain, Hj. Muhammad Said al-Attas (1977) yang menyebarkan tarekat ini di Negeri Sembilan, Kuala Lumpur, Sabah dan beberapa negeri lain termasuklah Thailand, Ustaz Hj. Muhammad Trang Isa (1978) yang menyebarkan tarekat ini di Sarawak, Ustaz Hj. Muhammad Uthman bin Abdul Latif (1984) yang menyebarkan tarekat ini di Terengganu, Ustaz Hj. Muhd Zuki (1986) yang menyebarkan tarekat ini di Kedah, Ustaz Hj. Mansur (1996) dan Tun Hj. Sakaran Dandai (2005) yang menyebarkan tarekat ini di Sabah dan Ustaz Saifuddin (2005) yang menyebarkan tarekat ini di Negeri Sembilan dan Kuala Lumpur.
Hasil dari penyebaran yang dilakukan oleh para wakil Abah Anom ini, jumlah pengamal Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah menjadi semakin bertambah dari semasa ke semasa dan pusat pengamalannya juga bertambah di seluruh tanah air. Antara pusat pengamalan Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di Malaysia sekarang ini ialah di Batu Caves (Kuala Lumpur), Lembah Kelang dan Bangi (Selangor), Nilai (Negeri Sembilan), Masjid Tanah (Melaka), Putrajaya, Kuala Nerang (Kedah), Kuala Terengganu, Dungun dan Kemaman (Terengganu), Kota Kinabalu, Tawau dan Sempoerna (Sabah), dan Kuching (Sarawak).
Selain itu antara kumpulan pengamal tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang masyhur di Malaysia ialah kumpulan yang terdapat di Johor iaitu yang mengambil silsilah daripada Shaykh Hasan Mustafa dan juga Shaykh Abu Naim (Sarang Buaya Semerah) yang kedua-duanya mengambil tarekat daripada Shaykh `Abd al-Karim Banten iaitu khalifah dan pengganti Shaykh Ahmad Khatib di Mekah dan Shaykh Sam`un ibn `Abd al-Karim. Begitu juga kumpulan yang mengambil silsilah daripada Shaykh Haji Siraj (Rengit, Batu Pahat) yang mengambil tarekat dari shaykh di Indonesia.Sehingga kini terdapat puluhan tempat perhimpunan dan pengamalan tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di negeri Johor dan sekitarnya.
 F.Silsilah Perguruan Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Dari segi silsilah tarekat, Shaykh Ahmad Khatib mengambil tarekat Qadiriyyah daripada Shaykh Shams al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh Muhammad Murad yang mengambilnya daripada Shaykh `Abd al-Fattah yang mengambilnya daripada Shaykh `Uthman yang mengambilnya daripada Shaykh `Abd al-Rahim yang mengambilnya daripada Shaykh Abu Bakr yang mengambilnya daripada Shaykh Yahya yang mengambilnya daripada Shaykh Hisham al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh Walyy al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh Nur al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh Sharf al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh Shams al-Din yang mengambilnya daripada Shaykh Muhammad al-Hattak yang mengambilnya daripada Shaykh `Abd al-`Aziz yang mengambilnya daripada Shaykh `Abd al-Qadir al-Jilani.
Shaykh `Abd al-Qadir al-Jilani mengambil tarekat daripada Shaykh Abu Sa`id al-Mubarak ibn `Ali al-Makhzumi yang mengambilnya daripada Shaykh Abu al-Hasan `Ali ibn Yusuf al-Qirshi al-Hakari yang mengambilnya daripada Shaykh Abu al-Fadl `Abd al-Wahid al-Tamimi yang mengambilnya daripada Shaykh Abu Bakr Dilf al-Shibli yang mengambilnya daripada Shaykh Abu al-Qasim al-Junayd al-Baghdadi yang mengambilnya daripada Shaykh Sirr al-Saqati yang mengambilnya daripada Shaykh Ma`ruf al-Karkhi yang mengambilnya daripada Shaykh  Abu al-Hasan `Ali ibn Musa al-Rida yang mengambilnya daripada Sayyiduna al-Imam Musa al-Kazim yang mengambilnya daripada Sayyiduna Ja`far al-Sadiq yang mengambilnya daripada Sayyiduna Muhammad al-Baqir yang mengambilnya daripada Sayyiduna Zayn al-`Abidin yang mengambilnya daripada Sayyiduna Husayn yang mengambilnya daripada Sayyiduna `Ali yang mengambilnya daripada Sayyiduna Muhammad s.a.w.[8]
 Manakala silsilah tarekat Naqshabandiyyah pula, Shaykh Ahmad Khatib Sambas didapati tidak menyebutnya dalam karya beliau Fath al-`Arifin. Para pengkaji sejarah tarekat seperti Martin Van Bruinessen pula, tidak menemui maklumat yang dapat memberikan penjelasan mengenai perkara ini. Walau bagaimanapun beberapa perguruan tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di Jawa didapati memberikan maklumat mengenai perkara ini.
Shaykh Baha’ al-Din Shah Naqshaband mengambil tarekat daripada Shaykh Sayyid Amir Kulal yang mengambilnya daripada Shaykh Muhammad Baba al-Samasi yang mengambilnya daripada Shaykh `Ali al-Ramitani yang mengambilnya daripada Shaykh Mahmud al-Injir al-Faghnawi yang mengambilnya daripada Shaykh `Arif al-Riwakri yang mengambilnya daripada Shaykh `Abd al-Khaliq al-Ghujdawani yang mengambilnya daripada Shaykh Yusuf al-Hamadani yang mengambilnya daripada Shaykh Abu `Ali al-Farmadi yang mengambilnya daripada Shaykh Abu al-Hasan al-Kharqani yang mengambilnya daripada Shaykh Abu Yazid al-Bistami yang mengambilnya daripada Imam Ja`far al-Sadiq yang mengambilnya daripada al-Qasim ibn Muhammad yang mengambilnya daripada Salman al-Farisi yang mengambilnya daripada Abu Bakr al-Siddiq yang mengambilnya daripada Nabi Muhammad s.a.w.
Berdasarkan silsilah ini, tarekat Naqshabandiyyah yang diambil oleh Shaykh Ahmad Khatib adalah dari cabang Mujaddidiyyah (nisbah kepada Shaykh Ahmad al-Faruqi al-Sirhindi) Mazhariyyah (nisbah kepada Shaykh Shams al-Din Habib Allah Jan Janan Mazhar al-`Alawi). Silsilah ini tidak melalui Shaykh Khalid al-Kurdi tetapi melalui Shaykh Abu Sa`id al-Ahmadi yang merupakan rakan seperguruan Shaykh Khalid di mana kedua-duanya merupakan murid dan juga khalifah kepada Shaykh `Abd Allah al-Dahlawi. Maka kerana itu tarekat Naqshabandiyyah Shaykh Ahmad Khatib bukanlah daripada cabang Khalidiyyah.
Amalan Khusus Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Terdapat beberapa amalan khusus yang dilaksanakan dalam tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, antaranya ialah; Pertama, zikir yang merangkumi zikir harian dan juga zikir khatam, sama ada dilaksanakan secara individu atau berjamaah. Kedua, manaqib iaitu majlis perhimpunan bulanan bagi ikhwan tarekat yang mana antara pengisiannya ialah pembacaan manaqib Shaykh `Abd al-Qadir al-Jilani. Ketiga, riyadah iaitu latihan kerohanian khusus yang dilaksanakan oleh ikhwan menurut apa yang diajarkan oleh shaykh.
Perlaksanaan Zikir Dalam Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Terdapat dua jenis zikir khusus dalam tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah iaitu zikir harian dan zikir khatam. Zikir harian ialah zikir jahr, zikir khafi dan muraqabah yang dilaksanakan secara tetap (istiqamah) setiap hati selepas solat fardu.
Zikir Jahr
Zikir jahr ialah zikir kalimah tauhid (nafy ithbat) yang diucapkan dengan lidah dengan syarat, adab dan kaifiyyat tertentu. Antara syarat zikir ini ialah talqin daripada murshid atau wakilnya, berwuduk, suara yang bersemangat dan pukulan yang kuat ke hati sanubari. Zikir ini bukan hanya diucapkan, malah ditanamkan dalam diri manusia sehingga keyakinannya menjadi kuat dan perilaku serta amalannya menjadi baik. Menerusi pendekatan tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, zikir kalimah tauhid ini diamalkan setiap kali selepas selesai solat fardu sejumlah paling kurang 165 kali.
Zikir Khafi (Sirr)
Manakala zikir khafi pula ialah zikir ism al-dhat yang ditanam dan diisikan di dalam hati dan perasaan sehingga hati seseorang itu terasa dan sedar terhadap kewujudan dan kebersertaan Allah di mana juga dia berada. Zikir ini diamalkan dengan persyaratan, adab dan kaifiyyat tertentu. Zikir ism al-dhat secara khafi ini diamalkan pada setiap kali selepas selesai solat fardu iaitu selepas zikir jahr.
Muraqabah
Muraqabah merupakan salah satu amalan yang dilaksanakan dalam tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah. Muraqabah dalam tarekat bermaksud renungan batin atau tilikan rohani terhadap Allah s.w.t. dan makna-makna ketuhanan-Nya serta pengertian-pengertian yang berkaitan dengannya dalam keadaan menanti limpahan kerohanian yang dikurniakan ke dalam hati. Ia dilaksanakan setelah seseorang murid itu mencapai kemantapan zikir dan mendapat talqin (pengajaran) serta keizinan daripada shaykh. Shaykh Ahmad Khatib dalam karya beliau Fath al-`Arifin telah menyebut dua puluh jenis muraqabah iaitu;
1-Muraqabah al-Ahadiyyah
2-Muraqabah al-Ma`iyyah
3-Muraqabah al-Aqrabiyyah
4-Muraqabah al-Mahabbah fi Da’irah al-Ula
5-Muraqabah al-Mahabbah fi al-Dai’irah al-Thaniyah
6-Muraqabah al-Mahabbah fi al-Qaws
7-Muraqabah Wilayah al-`Ulya
8-Muraqabah Kamalat al-Nubuwwah
9-Muraqabah Kamalat al-Risalah
10-Muraqabah Kamalat Ulu al-`Azmi
11-Muraqabah al-Mahabbah fi Da’irah al-Khullah
12-Muraqabah Da’irah al-Mahabbah al-Sarfah (Hakikat Sayyiduna Musa)
13-Muraqabah al-Dhatiyyah al-Mumtazijah bi al-Mahabbah
14-Muraqabah al-Mahbubiyyah al-Sarfah
15-Muraqabah al-Hubb al-Sarf
16-Muraqabah La Ta`yin
17-Muraqabah Haqiqah al-Ka`bah
18-Muraqabah Haqiqah al-Qur’an
19-Muraqabah Haqiqah al-Salah
20-Muraqabah Da’irah al-Ma`budiyyah al-Sarfah
 Zikir Khatam
Zikir khatam merupakan sebahagian daripada amalan yang dilaksanakan dalam tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah. Zikir khatam ini biasanya dilaksanakan secara berjamaah dan merupakan zikir mingguan, namun ia boleh juga dilaksanakan secara individu dan diamalkan secara harian. Zikir khatam tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah merupakan gabungan beberapa khatam yang dinisbahkan kepada beberapa orang shaykh yang ternama dalam silsilah kedua-dua tarekat tersebut iaitu tarekat Qadiriyyah dan tarekat Naqshabandiyyah.
Manaqib
Manaqib merupakan acara bulanan bagi ikhwan tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah. Dalam majlis manaqib ini, pembacaan manaqib Shaykh `Abdul al-Qadir al-Jilani akan diperdengarkan kepada para ikhwan selain daripada pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, tawassul dan beberapa acara lain lagi.
Matlamat Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah
Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, sebagaimana juga tarekat-tarekat lain adalah bertujuan mencapai hakikat ihsan. Perkara ini dapat dilihat dengan jelas pada munajat yang menjadi dasar bagi tarekat dan seluruh pengamalannya iaitu “Allahumma (Ilahi) anta maqsudi wa ridaka matlubi a`tini mahabbataka wa ma`rifataka” yang bermaksud “Tuhanku Engkaulah maksudku, keredaan Engkaulah yang aku cari, maka kurniakanlah kepadaku rasa cinta kepad-Mu dan kenal diri-Mu”. Munajat ini merangkumi tiga perkara utama iaitu taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, mencapai keredaan Allah dan mendapat mahabbah (rasa cinta) serta ma`rifah (kenal) terhadap Allah. Ketiga-tiga perkara ini adalah elemen asas bagi pencapaian hakikat ihsan.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
*  Kata Tarekat di ambil dari bahasa arab, yaitu dari kata benda thoriqoh yang secara etimologis berarti jalan, metode atau tata cara. Jamil Shaliba mengatakan secara harfiah, tarekat berarti jalan yang terang dan lurus yang memungkinkan seseorang sampai pada tujuannya dengan selamat.
*  Tarekat dalam terminologis (pengertian) ulama sufi yang dalam hal ini akan saya ambil definisi tarekat menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili al-Syafi al-Naqsyabandi, dalam kitab Tanwir al-Qulub-nya”Tarekat ialah beramal syariat, mengambil/yang azimah (berat) dari pada yang rukhsoh (ringan). 
Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah merupakan satu tarekat yang lahir daripada gabungan beberapa tarekat khususnya dua tarekat besar dalam dunia Islam iaitu Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah.
*   Tarekat ini yang pada mulanya muncul di Mekah telah berkembang dengan begitu pesat terutamanya di Nusantara khususnya di Kepulauan Jawa. Tarekat ini sebagaimana juga tarekat-tarekat lain, memberikan tumpuan kepada amalan zikir dan muraqabah dalam usaha mencapai hakikat ihsan. Pencapaian ihsan dilihat dapat memperkuatkan keimanan dan memantapkan perlaksanaan syariat.
*   Terdapat beberapa amalan khusus yang dilaksanakan dalam tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, antaranya ialah; Pertama,  zikir harian dan zikir khatam, sama ada dilaksanakan secara individu atau berjamaah. Kedua, manaqib iaitu majlis perhimpunan bulanan bagi ikhwan tarekat yang mana antara pengisiannya ialah pembacaan manaqib Shaykh `Abd al-Qadir al-Jilani. Ketiga, riyadah iaitu latihan kerohanian khusus.
Tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah, sebagaimana juga tarekat-tarekat lain adalah bertujuan mencapai hakikat ihsan.
DAFTAR PUSTAKA
M.Sholihin dan Rosyid Anwar, Akhlak Tasawuf, Bandung;Nuansa, 2005.
H.A.Fuad, Hakikat Tarekat Naqsyabandiah, Jakarta;Pustaka Al-Husna,1994.
Kh.A .Aziz Masyhuri, Ensiklopedi 22 aliran tarekat dalam tasawuf, Surabaya;IMTIYAZ , 2011.
DR.H.Asep Usmar Isamail.MA, Tasawuf,Jakarta;Pusat Study Wanita,2005.
Dr.Hj.Sri Mulyati, MA ,Mengenal& Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia,Jakarta: Kencana, 2006.
H.A.R.Gibb dan JH.Kramers,Shorter Encyclopedia of Islam (Ensiklopedi Islam) 2005.
Hawas Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf , Bruinessen; Tarekat Naqsyabandiyah ,2004.
           



[1] M.Sholihin dan Rosyid Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung;Nuansa,2005) 243
[2] H.A.Fuad, Hakikat Tarekat Naqsyabandiah, (Jakarta;Pustaka Al-Husna,1994), 9-10
[3] Kh.A .Aziz Masyhuri, Ensiklopedi 22 aliran tarekat dalam tasawuf, (surabaya;IMTIYAZ juli 2011) hal 6-7 
[4] DR.H.Asep Usmar Isamail.MA, Tasawuf,(Jakarta;Pusat Study Wanita:2005) 224
[5] Dr.Hj.Sri Mulyati, MA ,Mengenal& Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia,( Jakarta: Kencana, 2006) 26     
[6] H.A.R.Gibb dan JH.Kramers,Shorter Encyclopedia of Islam (Ensiklopedi Islam) 177
[7] Hawas Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf , (Bruinessen; Tarekat Naqsyabandiyah) 91
[8] Ahmad Khatib, Fath al-Arifin (Suryalaya; Uqudul Jurmaan)26-31

0 komentar:

Posting Komentar