VMenu
-
2013
(15)
- November (5)
- Oktober (1)
- Juli (2)
-
Juni
(7)
- Ritual notokng dalam adat masyarakat dayak mali taba
- Negara islam pada periode modern yang meliputi tur...
- SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM
- hal-hal yang dapat merusak akidah
- TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDO...
- BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cik...
- la-mahkamad dan al-ahwal
Block
Enter Block content here...
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.
Text Widget
Categories
Recent Posts
Label
Labels
Definition List
Download
Blogger templates
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
-
Nama : Wahyu Ischak putra Kelas/semester : A/satu Jurusan/prodi : syariah ekonomi islam Potensi kelapa sawit di kalimantan barat Pulau K...
-
Lorem superscript dolor subscript amet, consectetuer adipiscing elit, test link . Nullam dignissim convallis ...
-
B AB I Pendahuluan A. Latar belakang Pada dasarnya dalam konsep-konsep maqamat dan ahwal memperkenalkan bagian dari pemahaman tasa...
-
Nama : wahyu ischak putra Kelas : A Semester : 1 Prodi : ekonomi islam Tawakal Secara harfiah tawakal berasal dari bahasa arab yang be...
-
SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM A. PERKEMBANGAN SISTEM KEUANGAN Finansial system atau system keuangan adalah suatu kaidah a...
-
TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDONESIA DI SUSUN OLEH: WAHYU I...
-
BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cikal bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat dipungkiri suda...
-
Negara islam pada periode modern yang meliputi turki, mesir, asia barat, iran, anak benua india, eropa dan amerika. Di susun oleh :...
Arsip Blog
-
▼
2013
(15)
-
▼
Juni
(7)
- Ritual notokng dalam adat masyarakat dayak mali taba
- Negara islam pada periode modern yang meliputi tur...
- SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM
- hal-hal yang dapat merusak akidah
- TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDO...
- BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cik...
- la-mahkamad dan al-ahwal
-
▼
Juni
(7)
Followers
Blog Archive
-
▼
2013
(15)
-
▼
Juni
(7)
- Ritual notokng dalam adat masyarakat dayak mali taba
- Negara islam pada periode modern yang meliputi tur...
- SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM
- hal-hal yang dapat merusak akidah
- TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDO...
- BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cik...
- la-mahkamad dan al-ahwal
-
▼
Juni
(7)
Rabu, 26 Juni 2013
Ritual
notokng dalam adat masyarakat dayak mali taba
Di
susun oleh : wahyu ischak putra
Nim
:1122100017
1. Pengertian
Upacara notonkg
atau Noton'gh adalah upacara untuk memberi makan kepada kepala nenek moyang.
upacara ini masih terpelihara dengan baik dikampung-kampung tertentu yang
memiliki/menyimpan kepala manusia zaman dulu. Upacara ini hanya berlangsung
setahun sekali atau bila ada kejadian yang kurang baik dikampung. Acara ini
juga di lakukan untuk mendoakan arwah leluhur yang di anggap sebagai
orang-orang yang di segani dan di hormati. Acara ini di lakukan banyak fariasi,
ada yang melakukannya selama satu hari, ada juga yang melakukannya tiga hari,
tujuh hari bahkan ada yang melakukannya selama setahun. Ada berbagai maksud
mengapa masyarakan melakukan ritual notokng, ada yang melakukannya karena akan
mengadakan perang, ada jugan yang melaksanakannya untuk memohon kepada leluhur
agar desanya di jauhkan dari mara bahaya dan ada juga yang melakukannya untuk
memohon agar di jauhkan dari segala macam penyakit.
2. Tahapan
persiapan
Dalam
pelaksanan notokng cukup banyak hal yang harus dipersiapkan. Maka dari pada
itu, masyarakat jauh-jauh hari sebelum acara notokng dilaksanakan sudah
mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Hal-hal yang perlu di persiapkan
adalah :
1. buis atau sesajian
sesajian yang di gunakan berupa hewan, seperti satu ekor
babi, satu ekor ayam kampung, tuak, arak, lemang(pulut atau ketan), nasi.
Makanan ini di siapkan karena di yakini makanan ini adalah makanan yang di
sukai oleh kamang (leluhur). Sedangkan babi dan ayam kampung melambangkan
makanan masyarakat dayak mali.
2. Tumpi Ranakng dan tumpi kare’
merupakan kue yang terbuat dari tepung beras. Tumpi Ranakng
biasa juga disebut cucur berwarna agak kehitam-hitaman dangan rasa yang manis.
Tumpi kare’ berwarna putih dengan rasa yang asin. Ranakng dan kare’ bermakna
keseimbangan antara makanan dengan rasa asin dan manis.
3. Tempayan
digunakan
untuk membuat mandong pakat, yakni sejenis aturan yang disepakati oleh
masyarakat sewaktu mengadakan keramaian. Aturan tersebut biasanya larangan agar
antar masyarakat atau warga untuk tidak membuat keributan, perkelahian dan masalah
lainnya yang dapat menggangu berjalanannya upacara.
4. Pasu atau mangkok besar
akan digunakan untuk menyimpan air yang memang sudah
dibacakan mantra. Air tersebut digunakan untuk memerciki orang bila ada yang
kerasukan. Kerasukan tersebut biasanya timbul karena orang tersebut melanggar
pantang.
5. Jangka
Jangka adalah semacam meja yang dibuat untuk menyimpan
berbagai sesajian. Di hiasi dengan daun kelapa. Pada saat acaranya di mulai
jangka akan di bacakan mantra-mantra yang di dalamnya terisi sesajen.
6. Pawang
atau bisa juga disebut dukun
merupakan orang yang akan memimpin jalannya
ritual notokng tersebut. Pawang juga dibantu oleh beberapa orang yang memang
memiliki keahlian untuk membaca mantra, dan orang-orang tersebut memang dipilih
oleh pawang itu sendiri. Para pawang dan pembantunya menggunakan sengkulas
(kain yang diikatkan di kepala) bewarna merah, dengan diselipkan daun ensabakng
dan bulu burung ruai. Tidak ada pakaian yang khusus atau pakaian khas dayak
yang digunakan para pawang atau dukun, pakaian yang digunakan biasa-biasa saja hanya
biasanya bagian bawah menggunakan sarung.
3. Tahap pelaksanaan
Pada
dasarnya notokng memiliki tiga tahapan. Tahapan yang pertama disebut nyerah
manta’, tahap yang kedua adalah acara hiburan, dan yang ketiga adalah nyerah
masak.
1. Tahap nyerah manta`
yaitu tahapan awal pada pelaksanaan ritual notognk, tahapan
awal ini bermaksud untuk memberitahukan kepada kamang( arwah leluhur) bahwa
masyarakat akan mengadakan acara notognk. Pada saat pelaksanaannya di
laksanakan ritual bekibo yaitu mengibaskan ayam kampung dan membacakan mantra
yaitu (nyek,dewek,taru,empat,rimak,inem
ijo penampa pejaji,,,,)[1].
2. Pada tahapan kedua, yakni acara
hiburan.
Acara hiburan ini dimulai setelah tahap nyerah manta hingga
menjelang tahap nyerah masak. Jika notongnya selama tiga hari maka hari kedua
dan ketiga sebelum menjelang acara nyerah masak, diadakan acara hiburan. Begitu
juga dengan notokng selama tujuh hari. Namun pada notokng satu hari acara ini
tidaklah dilakukan karena notong satu hari pun sifatnya bukan untuk pesta-pesta
atau perayaan panen melainkan suasana gawat darurat. Acara yang ada pada malam
hiburan ini kebanyakan berupa tari-tarian dan hiburan musik. Pada intinya tidak
ada hal yang penting atau bersifat sakral yang dilaksanakan pada tahap hiburan
ini. Irama musik yang dimainkan merupakan irama-irama yang santai. Irama santai
dalam ritual notokng dinamakan nenggok. Alat musik yang digunakan adalah alat
musik yang tradisonal misalnya kulintang, dan gong. Masyarakat yang datang
boleh menari-nari, begitu juga dengan pemain musiknya boleh bergantian.
3. Tahap nyerah masak
Setelah tahap hiburan selesai pada malam terakhir, pawang
atau dukun yang memimpin ritual notokng akan memberikan tanda bahwa acara
puncak akan dimulai. Ritual ini ditandai dengan irama musik yang dimainkan.
Berbeda dengan irama musik hiburan, musik pada acara ini lebih keras dan
mungkin terdengar seram. Tahapan ini disebut merinting. Diiringi dengan musik
yang keras bahkan mungkin terdengar seram, pawang dan pembantunya mengelilingi
jangka, semacam tempat yang berbentuk meja yang digunakan untuk menyimpan
sesajian, untuk membacakan mantra. Pada tahapan inilah arwah akan datang untuk
menikmati sesajian yang disediakan. Tetapi bukan berarti pada malam-malam
sebelumnya arwah tidak hadir, hanya saja pada upacara merinting adalah waktunya
untuk mereka makan sesajian. Setelah merinting selesai.
Selanjutnya adalah nyeser yaitu suatu ritual amot samper
(yaitu manusia menjadi hantu dengan menggunakan bahan ijuk) yang mendatangi
warga dari rumah ke rumah. Ritual ini bermaksud untuk menjauhkan semua
penyakit-penyakit yang menimpa tanaman masyarakat, agar tanaman masyarakat
berupa padi dsb. Tetap bagus dan panen dengan hasil yang memuaskan. dan
selanjutnya masyarakat membuat perahu-perahuan di dalamnya di masukan berupa
sesajen dan ijuk yang dipakai oleh orang-orang yang menjadi amot samper dan
semuanya di hanyutkan ke sungani.
Tidak
cukup sampai di situ saja, yaitu ritual yang di namakan betampai yaitu warga
mengantungkan daun sabang, dan warga tidak boleh kemana-mana selama proses
pelaksanaannya selesai. Masyarakat juga di pantang ( dilarang) agar tidak
memakan makanan seperti jeruk,terasi dan udang. Karena di yankini
makana-makanan tersebut adalah makanan yang tidak di sukai oleh kamang. Biasanya
pada saat notokng, tak hanya masyarakat kampung yang mengadakan notokng saja
yang datang untuk menonton. Masyarakat yang dari kampung lain, bahkan kampung
yang jauh sekali pun biasanya datang, karena notokng juga termasuk dalam acara
keramaian yang menarik minat, terutama bagi dara dan bujang. Mereka yang datang
dari luar kampung juga harus berpantang. Pantangan bagi masyarakat yang ingin
melihat acara notokng adalah, sebelum datang ke acara tersebut tidak boleh
makan jeruk, terasi, dan udang. Pantangan ini berlaku untuk warga yang bukan
berasal dari kampung yang mengadakan notokng tersebut dan apabila tidak
,ematuhi pantangan-pantangan yang telah di sampaikan, biasanya ada yang
mengalami kesurupan, bahkan sampai ada yang meninggal dunia dan itu juga di
yakini akibat kemarahan damang. Setelah selesainya acara tersebut, maka ada
acara tembahan atau ritual tambahan yang harus di lakukan warga, yaitu seluruh
warga di larang berpergian kemana-mana selama tiga hari dan juga mereka tidak
boleh menerima tamu dari luar kampung, maka apabila ada masyarakat yang ingin
datang dan pergi maka hendaknya di lakukan setelah acara pantangannya selesai.
selain itu masyarakat juga di larang membuat keributa atau kebisinga yang akan
mengakibatkan terganggunya ketenangan warga lain, misalnya tidak boleh
menghidupkan musik dengan keras, tidak boleh berteriak-teriak, tidak boleh
menghidupkan mesin-mesin yang bersuara keras yang mengakibatkan kebisingan
warga.
Sekarang
ini sangan sulit di temukan, itu di akibatkan sudah jarangnya warga untuk
melakukan acara ritual yang sakral itu. Adapun warga dayak yang melakukan
ritual notokng sekarang ini di sebabkan karena akan di adakannya perang, itupun
perang yang di anggap mengancam warga dayak mali.
Unsur
acara notokng ini sebenarnya tidak jauh dari acara tahlilan hanya cara
pelaksanaannya yang berbeda. Tahlilan di lakukan untuk mendoakan ruh
orang-orang yang telah meninggal dunia agar ruhnya tentram dan damai di
alamnya. begitu juga notokng, acara ini di lakukan untuk mendoakan arwah-arwah
leluhur. Selain itu juga acara notokng ini juga bermaksud untuk memohon kepada jubata
agar masyarakat terhindar dari segala penyakit baik diri pribadi masyarakat
sampai ke tanaman yang di tanam oleh masyarakat seperti padi dsb. Hal itu tidak
jauh seperti zikir-zikir yang di lakukan bermaksud memohon kepada allah agar di
berikan kesehatan
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)
0 komentar:
Posting Komentar