Block

Enter Block content here...


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.

Text Widget

Categories

Recent Posts

Label

Labels

Definition List

Download

Blogger templates

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

Followers

Rabu, 26 Juni 2013

Ritual notokng dalam adat masyarakat dayak mali taba
Di susun oleh : wahyu ischak putra
Nim :1122100017
1.      Pengertian
Upacara notonkg atau Noton'gh adalah upacara untuk memberi makan kepada kepala nenek moyang. upacara ini masih terpelihara dengan baik dikampung-kampung tertentu yang memiliki/menyimpan kepala manusia zaman dulu. Upacara ini hanya berlangsung setahun sekali atau bila ada kejadian yang kurang baik dikampung. Acara ini juga di lakukan untuk mendoakan arwah leluhur yang di anggap sebagai orang-orang yang di segani dan di hormati. Acara ini di lakukan banyak fariasi, ada yang melakukannya selama satu hari, ada juga yang melakukannya tiga hari, tujuh hari bahkan ada yang melakukannya selama setahun. Ada berbagai maksud mengapa masyarakan melakukan ritual notokng, ada yang melakukannya karena akan mengadakan perang, ada jugan yang melaksanakannya untuk memohon kepada leluhur agar desanya di jauhkan dari mara bahaya dan ada juga yang melakukannya untuk memohon agar di jauhkan dari segala macam penyakit.






2.      Tahapan persiapan
Dalam pelaksanan notokng cukup banyak hal yang harus dipersiapkan. Maka dari pada itu, masyarakat jauh-jauh hari sebelum acara notokng dilaksanakan sudah mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Hal-hal yang perlu di persiapkan adalah :
1.      buis atau sesajian  
sesajian yang di gunakan berupa hewan, seperti satu ekor babi, satu ekor ayam kampung, tuak, arak, lemang(pulut atau ketan), nasi. Makanan ini di siapkan karena di yakini makanan ini adalah makanan yang di sukai oleh kamang (leluhur). Sedangkan babi dan ayam kampung melambangkan makanan masyarakat dayak mali.
2.      Tumpi Ranakng dan tumpi kare’
merupakan kue yang terbuat dari tepung beras. Tumpi Ranakng biasa juga disebut cucur berwarna agak kehitam-hitaman dangan rasa yang manis. Tumpi kare’ berwarna putih dengan rasa yang asin. Ranakng dan kare’ bermakna keseimbangan antara makanan dengan rasa asin dan manis.
3.      Tempayan
digunakan untuk membuat mandong pakat, yakni sejenis aturan yang disepakati oleh masyarakat sewaktu mengadakan keramaian. Aturan tersebut biasanya larangan agar antar masyarakat atau warga untuk tidak membuat keributan, perkelahian dan masalah lainnya yang dapat menggangu berjalanannya upacara.



4.      Pasu atau mangkok besar
akan digunakan untuk menyimpan air yang memang sudah dibacakan mantra. Air tersebut digunakan untuk memerciki orang bila ada yang kerasukan. Kerasukan tersebut biasanya timbul karena orang tersebut melanggar pantang.
5.      Jangka
Jangka adalah semacam meja yang dibuat untuk menyimpan berbagai sesajian. Di hiasi dengan daun kelapa. Pada saat acaranya di mulai jangka akan di bacakan mantra-mantra yang di dalamnya terisi sesajen.
6.      Pawang atau bisa juga disebut dukun
 merupakan orang yang akan memimpin jalannya ritual notokng tersebut. Pawang juga dibantu oleh beberapa orang yang memang memiliki keahlian untuk membaca mantra, dan orang-orang tersebut memang dipilih oleh pawang itu sendiri. Para pawang dan pembantunya menggunakan sengkulas (kain yang diikatkan di kepala) bewarna merah, dengan diselipkan daun ensabakng dan bulu burung ruai. Tidak ada pakaian yang khusus atau pakaian khas dayak yang digunakan para pawang atau dukun, pakaian yang digunakan biasa-biasa saja hanya biasanya bagian bawah menggunakan sarung.





3.      Tahap pelaksanaan
Pada dasarnya notokng memiliki tiga tahapan. Tahapan yang pertama disebut nyerah manta’, tahap yang kedua adalah acara hiburan, dan yang ketiga adalah nyerah masak.
1.      Tahap nyerah manta`
yaitu tahapan awal pada pelaksanaan ritual notognk, tahapan awal ini bermaksud untuk memberitahukan kepada kamang( arwah leluhur) bahwa masyarakat akan mengadakan acara notognk. Pada saat pelaksanaannya di laksanakan ritual bekibo yaitu mengibaskan ayam kampung dan membacakan mantra yaitu (nyek,dewek,taru,empat,rimak,inem ijo penampa pejaji,,,,)[1].
2.      Pada tahapan kedua, yakni acara hiburan.
Acara hiburan ini dimulai setelah tahap nyerah manta hingga menjelang tahap nyerah masak. Jika notongnya selama tiga hari maka hari kedua dan ketiga sebelum menjelang acara nyerah masak, diadakan acara hiburan. Begitu juga dengan notokng selama tujuh hari. Namun pada notokng satu hari acara ini tidaklah dilakukan karena notong satu hari pun sifatnya bukan untuk pesta-pesta atau perayaan panen melainkan suasana gawat darurat. Acara yang ada pada malam hiburan ini kebanyakan berupa tari-tarian dan hiburan musik. Pada intinya tidak ada hal yang penting atau bersifat sakral yang dilaksanakan pada tahap hiburan ini. Irama musik yang dimainkan merupakan irama-irama yang santai. Irama santai dalam ritual notokng dinamakan nenggok. Alat musik yang digunakan adalah alat musik yang tradisonal misalnya kulintang, dan gong. Masyarakat yang datang boleh menari-nari, begitu juga dengan pemain musiknya boleh bergantian.
3.      Tahap nyerah masak
Setelah tahap hiburan selesai pada malam terakhir, pawang atau dukun yang memimpin ritual notokng akan memberikan tanda bahwa acara puncak akan dimulai. Ritual ini ditandai dengan irama musik yang dimainkan. Berbeda dengan irama musik hiburan, musik pada acara ini lebih keras dan mungkin terdengar seram. Tahapan ini disebut merinting. Diiringi dengan musik yang keras bahkan mungkin terdengar seram, pawang dan pembantunya mengelilingi jangka, semacam tempat yang berbentuk meja yang digunakan untuk menyimpan sesajian, untuk membacakan mantra. Pada tahapan inilah arwah akan datang untuk menikmati sesajian yang disediakan. Tetapi bukan berarti pada malam-malam sebelumnya arwah tidak hadir, hanya saja pada upacara merinting adalah waktunya untuk mereka makan sesajian. Setelah merinting selesai.
Selanjutnya adalah nyeser yaitu suatu ritual amot samper (yaitu manusia menjadi hantu dengan menggunakan bahan ijuk) yang mendatangi warga dari rumah ke rumah. Ritual ini bermaksud untuk menjauhkan semua penyakit-penyakit yang menimpa tanaman masyarakat, agar tanaman masyarakat berupa padi dsb. Tetap bagus dan panen dengan hasil yang memuaskan. dan selanjutnya masyarakat membuat perahu-perahuan di dalamnya di masukan berupa sesajen dan ijuk yang dipakai oleh orang-orang yang menjadi amot samper dan semuanya di hanyutkan ke sungani.
        Tidak cukup sampai di situ saja, yaitu ritual yang di namakan betampai yaitu warga mengantungkan daun sabang, dan warga tidak boleh kemana-mana selama proses pelaksanaannya selesai. Masyarakat juga di pantang ( dilarang) agar tidak memakan makanan seperti jeruk,terasi dan udang. Karena di yankini makana-makanan tersebut adalah makanan yang tidak di sukai oleh kamang. Biasanya pada saat notokng, tak hanya masyarakat kampung yang mengadakan notokng saja yang datang untuk menonton. Masyarakat yang dari kampung lain, bahkan kampung yang jauh sekali pun biasanya datang, karena notokng juga termasuk dalam acara keramaian yang menarik minat, terutama bagi dara dan bujang. Mereka yang datang dari luar kampung juga harus berpantang. Pantangan bagi masyarakat yang ingin melihat acara notokng adalah, sebelum datang ke acara tersebut tidak boleh makan jeruk, terasi, dan udang. Pantangan ini berlaku untuk warga yang bukan berasal dari kampung yang mengadakan notokng tersebut dan apabila tidak ,ematuhi pantangan-pantangan yang telah di sampaikan, biasanya ada yang mengalami kesurupan, bahkan sampai ada yang meninggal dunia dan itu juga di yakini akibat kemarahan damang. Setelah selesainya acara tersebut, maka ada acara tembahan atau ritual tambahan yang harus di lakukan warga, yaitu seluruh warga di larang berpergian kemana-mana selama tiga hari dan juga mereka tidak boleh menerima tamu dari luar kampung, maka apabila ada masyarakat yang ingin datang dan pergi maka hendaknya di lakukan setelah acara pantangannya selesai. selain itu masyarakat juga di larang membuat keributa atau kebisinga yang akan mengakibatkan terganggunya ketenangan warga lain, misalnya tidak boleh menghidupkan musik dengan keras, tidak boleh berteriak-teriak, tidak boleh menghidupkan mesin-mesin yang bersuara keras yang mengakibatkan kebisingan warga.

        Sekarang ini sangan sulit di temukan, itu di akibatkan sudah jarangnya warga untuk melakukan acara ritual yang sakral itu. Adapun warga dayak yang melakukan ritual notokng sekarang ini di sebabkan karena akan di adakannya perang, itupun perang yang di anggap mengancam warga dayak mali.
        Unsur acara notokng ini sebenarnya tidak jauh dari acara tahlilan hanya cara pelaksanaannya yang berbeda. Tahlilan di lakukan untuk mendoakan ruh orang-orang yang telah meninggal dunia agar ruhnya tentram dan damai di alamnya. begitu juga notokng, acara ini di lakukan untuk mendoakan arwah-arwah leluhur. Selain itu juga acara notokng ini juga bermaksud untuk memohon kepada jubata agar masyarakat terhindar dari segala penyakit baik diri pribadi masyarakat sampai ke tanaman yang di tanam oleh masyarakat seperti padi dsb. Hal itu tidak jauh seperti zikir-zikir yang di lakukan bermaksud memohon kepada allah agar di berikan kesehatan


[1] Terusannya di baca permohonan kepada leluhur apa yang di minta dalam bahasa dayak mali.

0 komentar:

Posting Komentar