Block
Enter Block content here...
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.
Text Widget
Categories
Recent Posts
Label
Labels
Definition List
Download
Blogger templates
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
-
Nama : Wahyu Ischak putra Kelas/semester : A/satu Jurusan/prodi : syariah ekonomi islam Potensi kelapa sawit di kalimantan barat Pulau K...
-
Lorem superscript dolor subscript amet, consectetuer adipiscing elit, test link . Nullam dignissim convallis ...
-
B AB I Pendahuluan A. Latar belakang Pada dasarnya dalam konsep-konsep maqamat dan ahwal memperkenalkan bagian dari pemahaman tasa...
-
Nama : wahyu ischak putra Kelas : A Semester : 1 Prodi : ekonomi islam Tawakal Secara harfiah tawakal berasal dari bahasa arab yang be...
-
SISTEM KEUANGAN DALAM EKONOMI ISLAM A. PERKEMBANGAN SISTEM KEUANGAN Finansial system atau system keuangan adalah suatu kaidah a...
-
TUGAS ARTIKEL KARYA ILMIAH KORUPSI DAN BUDAYA INDONESIA DI SUSUN OLEH: WAHYU I...
-
BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Cikal bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat dipungkiri suda...
-
Negara islam pada periode modern yang meliputi turki, mesir, asia barat, iran, anak benua india, eropa dan amerika. Di susun oleh :...
Arsip Blog
Followers
Sabtu, 13 Juli 2013
Ritual pengobatan ( sempulek ) ala suku dayak mali taba
Desa menyabo kec.tayan hulu kab.sanggau
Di susun oleh : wahyu ischak putra
Nim : 1122100017
Jurusan/prodi : syariah ekonomi islam
Semester/kelas : 2(dua)/A
A. Pengantar
Suku dayak mali adalah suku dayak yang termasuk rumpun dayak darat yang terdapat di kabupaten sanggau, terutama mendiami seluruh batang tarang. Suku dayak mali terbagi menjadi tiga suku, yaitu suku dayak mali peruan, dayak mali taba dan dayak mali keneles. Suku dayak mali sebagian besar beragama kristen katolik san sebahagian juga memeluk agama kristen protestan, sedangkan yang memeluk agama islam hampir tidak ada. Kebanyakan orang dayak yang memeluk agama islam di karenakan menikah dengan orang-orang melayu islam. Tetapi walaupun masyarakat dayak yang masuk agama islam dan menikah dengan orang – orang melayu kebanyakan merekan masih memiliki jiwa kebudayaan kental yang dimiliki. Masyarakat dayak mali sangat percaya akan kekuatan jubata. Karena bagi mereka jubata adalah yang paling agung.
Sempulek adalah ritual yang di lakukan oleh masyarakat dayak mali untuk menyembuhkan penyakit yang di alami. Penyakit-penyakit yang di alami oleh orang-orang di yakini memiliki sebab. Dan orang yang bisa melakukan sempulek bukanlah orang yang sembarangan, yang bisa melakukannya adalah orang-orang tertentu yang mendapatkan cara-cara sempulek itu dengan berbagai macam jalan, seperti mimpi, di turunkan oleh keturunannya, dan bahkan ada orang yang belajar langsung (nuntut). Dan bacaan-bacaan (mantra-mantra) yang di gunakan oleh dukun untuk mengobati orang-orang yang sakit bukanlah bacaan-bacaan sembarangan. Dan yang mengetahui mantra-mantra itu hanyalah si dukun.
B. Cara pelaksanaan sempulek
1. Pelaksanaan awal sempulek
Sebelum melakukan ritual sempulek, si keluarga yang mengalami sakit harus menyiapkan bahan-bahan yang di perlukan untuk ritual, yaitu:
a. Beras
beras harus di sediakan pada saat akan di adakan nya ritual sempulek, beras yang di gunakan tidaklah banyak, kurang lebih ½ kilo.
b. Piring
piring di gunakan untuk menyimpab beras dan bahan-bahan lainnya. Piring yang di gunakan harus piring dari bahan seng dan todak boleh menggunakan piring berbahan lain.
c. Paku
paku di taruh di tumpukan beras yang sudah di sediakan. Paku di gunakan untuk pada saat akan menutup ritualnya.
d. Garam
garam yang di gunakan tidaklah banyak hanyastengeh sendok makan dan di bungkus dengan kertas dan di letakkan di atas tumpukan beras juga.
e. Uang
Uang yang di gunakan tidak banyak cukup dengan uang seribu kertas, dan hanya menjadi syarat dalam ritual sempulek, dan uang di taruh di atas tumpukan beras.
f. Pisau
Pisau di gunakan pada saat ritual di lakukan. Yang akan di pakai si dukun untuk menyembuhkan pasiennya.
g. Kunyit
Kunyit di gunakan sebagai obat untuk yang sakit yang nantinya akan di semburkan di kening dan telingga sang pasien.
2. Tahap pelaksanaan sempulek.
Pada saat ritual pengobatan akan di lakunan sang pasien dan dukun haus saling menghadap bahan – bahan yang di lakukan. Biasanya sang dukun akan menyuruh keluarga dari yang sakit untuk menyediakan segelas air mineral. Setelah air mineral sudah di siapkan si dukun akan menghadapi pasien san membacakan bacaan-bacaannya yaitu “bisemmilariamadirahim, nyek dewe,taru,empat, rima inem ijok penampa pejaji, mandak joy lah bala penyakit i, dok ampus,dok urek, dok tingel, dok ikat laba jet, dok laba bamek e gik ngacowo.
Setelah mantra di bacakan maka dukun akan mengunyah kunyit yang telah di sediakan sebelumnya, dan di semburkan di kening si pasien dan ke telinga pasien baik yang kiri maupun yang kanan sambil tetapi tidak kena pada telingga, hanya melewati telinga saja , sebelum menyemburkan kunyit sang dukun mengucap mantra “bisemmilariamadirahim, bo ko laba empatoh” . dan setelah penyemburan itu sang dukun akan memasukan berberapa butir beras ke dalam air dan menyelupkan pisau yang telah di sediakan. Air yang telah di masukan beras dan di celupkan pisau itu harus di minum oleh pasien selama proses ritual kurang lebih tiga hari apabila si pasien haus, setelah acara selesai maka selesailah acara pengobatannya, dan ritual di ulangi setiap hari setelah magrib dengan ritual yang sama yaitu menyembur kening dan telinga dengan kunyit .
Si dukun akan memberikan waktu selama tiga hari untuk melihat hasil pengobatannya, apakah berhasil atau tidak. Dan selama tiga hari itu pula si pasien di berikan pantangan ( larangan ) berupa :
- Tidak boleh melakukan aktifitas mengoreng di dalam rumah
- Tidak boleh memakan yang amis-amis dan tajam seperti ikan paten
- Tidak boleh keluar dari rumah bagi si pasien.
Apabila pantangan-pantangan ini tidak di turuti maka di yakini si pasien tidak akan sembuh.
c. tahap penutup atau tahap pengunci
Setelah semua tahap pada ritual pengobatannya maka akan di tutup atau di kunci oleh sang dukun. Tahap ini di yakini akan mengunci tubuh si pasie tidak kembali lagi. Seperti awal pembukaan ritual harus menyediakan bahan-bahan yang di gunakan untuk ritul, begitu juga dengan penutupnya. Sang dukun meminta kepada keluarga si pasien untuk menyediakan bahan-bahan yang di perlukan, seperti :
1. Ayam kampung
Ayam kampung di gunakan untuk menutup atau mengunci nya , yaitu mengibaratkan ayam sebagai tubuh si pasien, yang bermaksud agar semua penyakit yang di alami oleh pasien pindah kepada ayam.
2. Beras
Beras yang di gunakan yaitu beras yang sudah di siapkan pada saat ritual pembukaan.
3. Garam
Garam yang di gunakan yaitu garam yang sudah di siapkan pada saat ritual pembukaan juga.
4. Paku
Sama dengan beras dan garam, begitu juga dengan paku. Paku yang di gunakan adalah paku yang di gunakan pada saat ritual pembukaannya.
Setelah semua barang telah di siapkan, maka ritualnya akan segera di mulai. Seperti pada biasa, pada tahap awalnya sang pasien di suruh duduk menghadapi sang dukun dan bahan-bahan yang telah di siapkan. Si dukun akan mengambilkan ayam dan di KIBO (di putar selama 7 kali mengelilingi sekitar) yang bermaksud agar semua penyakit yang ada di serap ke badan ayam. Selain dukun ngibokan ayam itu di sekitar pasien, si dukun akan membacakan bacaan-bacaannya yaitu “bisemilah irahma nirahim,nyek,dewek,tagu,empat,rima,inem ijok perampa pejaji, nak main kak tuhan gik muet sebamek e mandak ngaok bamek sakit,bamek anap , bamek laba gik ngacowo ngan laba gik mandak nyenge ojo ngani ngani.
Setelah selesai melakukan kibo, si dukun akan menyuruh keluarga si pasien lagi untuk menyiapkan air, boleh menggunakan botol atau juga boleh menggunakan gelas karena air yang nanti di pakai si dukun akan menjadi obat yang harus di minum oleh si pasien. Dan air itu di berikan beras sebanyak tujuh butir dan si dukun akan mencelupkan paku atau pisau kedalam air dan si pasien harus meminumnya.
Setelah selesai membuatkan minuman obat kepada si pasien, si dukun mengigit paku yang telah di pakai untuk mencelupkan di air. Hal itu dilakukan bermaksud agar si dukun, sanak saudara, bapak ibu dan semua orang tidak terkena penyakit yang sama dan berharap akan kebal dari penyakit. Setelah semua ritual telah berakhir maka selesailah ritual pengobatannya.
Walaupun sudah berakhir si pasien harus tetap menghindari pantangan, walaupun tidak semua pantangannya harus di hindari lagi, seperti memakan makanan yang amis-amis dan tajam. Kecuali seperti tidak boleh melakukan aktifitas menggoreng dan tidak boleh keluar rumah, kalo tidak di turuti pun tidak apa-apa karena sudah di tutup atau di kunci.
Ritual penyembuhan ala dayak mali bukanlah hana ini saja, masih banyak ritual-ritual pengobatan dengan cara yang lain. Masyarakat di beri kemampuan bisa mengobati melalui berbagai macam cara, berarti berbagai macam cara yang di gunakan oleh masyarakat untuk mengobati. Dan yang bisa mengobati atau menjadi seorang dukun bukan orang-orang yang sembarangan. Dan apabila ritual di atas tidak manjur untuk si pasien, maka si pasien di sempulek ulanag dengan dukun yang berbeda dan dengan carayang berbeda pula.
Pada saat awal pembacaan mantra-mantra si dukun ada menyebutkan “bisemmilariamadirahim” (bismillahi rahman nirahim) yang menunjukan ada unsur islam di dalamnya. Entah bagaimana cara mengetahui bacaan-bacaan itu. Karena bagi masyarakat dayak yang tau cara mendapatkannya hanya si dukun dan menjadi rahasia si dukun.
Referensi :
Wawancara dengan pak asoy
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)
0 komentar:
Posting Komentar